Page 211 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 211

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

               2.  Tinjauan Pustaka

                      Pneumonia  dapat  disebabkan  oleh  bacteri,  virus,  parasit  (parasit  paru)  serta  akibat
               reaksi  alergik.  Pneumonia  sangat  mudah  terjadi  pada  anak  kambing  pra-sapih  yang  tidak
               mendapat cukup kolostrum saat dilahirkan atau dipelihara dalam kandang dengan kepadatan
               tinggi. Penyakit ini mudah timbul pada anak kambing umur <35 hari ataupun pada umur 2-3
               bulan.  Istilah  umum  pneumonia  digunakan  untuk  menjelaskan  gangguan  paru  baik  akibat
               infeksi bakteri, virus, parasit dan akibat sebab lain yang mengakibatkan pembengkakan paru
               (inflamasi). Pneumonia dapat bersifat akut (menyebabkan sakit dan kematian dalam beberapa
               jam) maupun kronik. Penyakit ini sering dipicu oleh cekaman, misalnya akibat ventilasi yang
               kurang  baik  sehingga  humiditas  (kelembaban)  didalam  kandang  tinggi.  Gejala  terserang
               pneumonia adalah nafsu makan hilang, batuk berulang, demam, sulit bernafas, keluar cairan
               dari lubang hidung. Pada kasus yang berat ternak bernafas melalui mulut yang membuka. Jika
               sampai mengalami sakit di paru, ternak menunjukan tanda dengan selalu tidak aktif bergerak
               (Ginting dkk, 2009).
                      Pneumonia  (radang  paru-paru)  merupakan  penyakit  penting  pada  kambing  karena
               keterlambatan penanganan akan berakibat fatal yang dapat merugikan peternak. Pneumonia
               dapat bersifat lobular (bronkopneumonia) dan pneumonia lobar. Pneumonia juga dapat terjadi
               pada parenkim paru-paru, bronkiolus dan pleura. Bakteri penyebab pneumonia adalah bakteri
               gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri tersebut antara lain Streptococcus sp (37,5%),
               Staphylococcus sp (25%), Corynebactreium sp (12,5%), Proteus sp (12,5%) dan Mycoplasma
               sp  (6,25%)  (Yuriadi,  2002).  Pneumonia  dapat  disebabkan  oleh  managemen  perkandangan.
               Perubahan  sistem  lantai  kandang  tanah  menjadi  sistem  panggung  mengurangi  kambing
               terserang  pneumonia  (Silalahi  dkk,  2006).  Kejadian  pneumonia  pada  kambing  sebesar  7%
               (Sendow dkk, 2002).



               3.  Metodologi

                      Penelitian  dilakukan  di  Balai  Besar  Pelatihan  Peternakan  Batu  (BBPP  Batu)  dari
               januari 2015 sd desember 2016. Data kasus pneumonia diambil dari data kasus pneumonia
               pada kambing yang ada di farm kambing potong BBPP Batu. Data kasus penumonia meliputi
               jumlah kambing, jumlah kambing yang mengalami kasus pneumonia, tanda-tanda klinis dan
               foto-foto  hasil  nekropsi.  Peralatan  dan  bahan  yang  digunakan  pada  saat  nekropsi  pisau,
               gunting  bedah,  kamera,  sarung  tangan,  alkohol  dan  sabun  antiseptik.  Pengambilan  darah
               menggunakan tabung EDTA dan spuit jarum 18 G.  Penegakan  diagnosa  pneumonia  dengan
               cara  melihat  gejala  klinis  dan  melakukan  nekropsi  pada  kambing  yang  telah  mati.
               Pemeriksaan  juga  dilakukan  dengan  mengambil  sampel  darah  dari  kambing  yang
               menunjukkan gejala klinis. Sampel darah yang didapatkan kemudian di uji menggunakan alat
               Auto Hematology Analyser. Data  yang diperoleh di analisis dengan menggunakan literatur
               yang sesuai. Prevalensi dihitung dengan cara menghitung jumlah kambing pneumonia dibagi
               jumlah total kambing dikalikan 100%.



               4.  Hasil dan Pembahasan

                      Populasi       kambing  di  Balai  Besar  Pelatihan  Peternakan  Batu  95  ekor  terdiri
               kambing potong (boer) dan kambing perah (saanen, Peranakan Etawa, dan Senduro).




                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”     200
   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216