Page 476 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 476
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
100 84.5 80 77.2
… 80 60.0 5 … 75 4
Kecernaan 60 Kecernaan 70 67.3
6
6
40
20 65
0 60
T1 T2 S1 S2
Ilustrasi 2. Pengaruh Imbangan Hijauan dengan Konsentrat Terhadap Kecernaan Protein dan Pengaruh
Suplementasi Urea Terhadap Kecernaan Protein
Kadar Protein Susu
Berdasarkan hasil yang diperoleh diketahui bahwa rata-rata kadar protein susu pada
perlakuan yaitu sebagai berikut:
Tabel 7: Rata-rata Kadar Protein Susu pada T1S1, T1S2, T2S1 dan T2S2
Imbangan H:K
Suplementasi T1 T2 Rata-rata
Urea
----------------------%----------------------
S1 2,38 2,68 2,53
S2 2,35 2,65 2,50
Rata-rata 2,36 2,66
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara perlakuan
imbangan hijauan dengan konsentrat dan suplementasi urea terhadap kadar protein susu sapi
perah (P>0,05). Kadar protein susu yang tidak berbeda nyata dapat disebabkan karena kadar
protein susu yang relatif sama antar perlakuan terhadap parameter. Hadiwiyoto (1994)
menyatakan bahwa meskipun konsumsi protein telah memenuhi standar, kadar protein susu
masih berada dibawah standar jika pada kisaran 2,9 – 5,0%.
Perlakuan imbangan hijauan dengan konsentrat tidak memberikan pengaruh nyata
(P>0,05) terhadap kadar protein susu. Nilai protein susu yang rendah disebabkan jumlah
produksi susu yang rendah, sehingga menyebabkan produksi protein susu yang rendah pula.
Hal ini sesuai dengan pendapat Indriani et al., (2013) bahwa pemberian protein ransum yang
terlalu tinggi memberikan pengaruh yang kecil terhadap protein air susu karena kelebihan
protein akan mengalami deaminasi yang digunakan untuk zat pembangun dan pengganti sel
yang rusak, sehingga protein yang disintesis dalam kelenjar ambing lebih sedikit.
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 465

