Page 45 - Modul Pengembangan Pangan Fungsional
P. 45

sebagai  prebiotik.  Prebiotik  sebagai  bahan  makanan  yang  tidak  dapat  tercerna  dan

                   memberi efek menguntungkan dengan mendorong pertumbuhan dan aktivitas dari satu
                   atau sejumlah koloni bakteri yang dapat meningkatkan kesehatan kolon.


                   C. Asam Lemak Berantai Pendek


                          Pati  resisten  (RS)  merupakan  pati  yang  tidak  dapat  dicerna  oleh  enzim
                   pencernaan  dan  tahan  terhadap  asam  lambung  sehingga  dapat  mencapai  usus  besar

                   untuk  difermentasi  oleh  bakteri  probiotik  menjadi  asam  lemak  rantai  pendek.  RS

                   memiliki kelebihan sebagai prebiotik jika dibandingkan dengan FOS dan inulin yaitu
                   mampu  mengikat  dan  mempertahankan  kadar  air  dalam  feses,  sehingga  tidak

                   menyebabkan sembelit dan flatulensi jika dikonsumsi dalam jumlah besar. Selain itu,
                   RS digolongkan sebagai sumber serat tidak larut dan mampu menurunkan kolesterol

                   dan indeks glikemik, mencegah terjadinya kanker kolon melalui pembentukan asam
                   lemak rantai pendek, mereduksi pembentukan batu empedu dan membantu penyerapan

                   mineral. FAO telah merekomendasikan konsumsi RS sebanyak 15-20 gram setiap hari

                   untuk memperoleh manfaat bagi kesehatan (Setiarto, 2016).
                          RS  yang  bermanfaat  adalah  pati  yang  secara  selektif  dapat  merangsang

                   pertumbuhan  dan  /  atau  aktivitas  satu  atau  lebih  jenis  bakteri  baik,  yang  meliputi
                   lactobacilli  dan  bifidobacteria,  dan  secara  positif  dapat  mempengaruhi  kesehatan

                   inangnya,  yang  dikenal  sebagai  efek  prebiotik  (Arshad  et  al).  Pati  resisten  dapat

                   menurunkan  respon  insulin  atau  penyerapan  gula  darah  sehingga  penyakit  diabetes
                   dapat  ditekan.  Selain  itu,  pati  rsisten  dapat  menurunkan  indeks  glikemik  makanan.

                   Karena makanan yang dicerna dalam waktu yang lambat cenderung memberikan indeks
                   glikemik yang rendah.


                   D. Indeks Glikemik


                          Jenkins et al. (1981) pertama kali memperkenalkan konsep indeks glikemik (IG)
                   dengan mengelompokkan bahan pangan berdasarkan efek fisiologisnya terhadap kadar

                   glukosa darah setelah pangan dikonsumsi. Bahan pangan dicerna dengan kecepatan
                   berbeda-beda,  sehingga  respons  kadar  glukosa  darah  juga  berbeda.  IG  dapat

                   memberikan petunjuk kepada efek faali makanan terhadap  kadar glukosa darah dan

                   respons  insulin  serta  cara  yang  mudah  dan  efektif  untuk  mengendalikan  fluktuasi
                   glukosa darah. Secara umum, pangan  yang  menaikkan kadar glukosa darah dengan

                   cepat memiliki IG tinggi, sedangkan pangan yang menaikkan kadar gula darah dengan




                                                                                                    44
   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50