Page 22 - diriku modul 3.1_Neat
P. 22
dua saudara perempuan dan seorang saudara laki-laki. Dia dibaptis dengan nama
Agnes. Ayahnya meninggal saat Agnes berusia 8 tahun, dan Agnes harus menjalani
hidupnya bersama ibu dan ketiga saudara-saudarinya.Ibunya merawat anak-anaknya
dengan penuh kasih sayang dalam suasana lingkungan kehidupan Katolik.
Agnes remaja ikut serta dalam kegiatan menggereja, bergabung dalam kegiatan
kelompok remaja sodality yang didampingi oleh pastor Jesuit, yang menumbuhkan
awal kertarikan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan misionaris. Pastor parokinya
juga menyediakan majalah misi The Catholic Mission yang menarik perhatian dan
menyuburkan benih ketertarikan dalam panggilan hidupnya.
Pada usia 17 tahun, dia menanggapi ketertarikan panggilan hidupnya dengan
menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati misionaris Katolik. Setahun
kemudian, Agnes masuk biara Ordo suster-suster Loretto di Irlandia sebagai postulan
untuk belajar bahasa Inggris. Dia kemudian memasuki pendidikan novisiat di
Daarjeeling, India. Agnes mengambil nama Teresa dalam kaul profesinya sebagai
biarawati suster-suster misionaris Loretto, yang kemudian mengirimnya sebagai
suster misionaris di India.
Selama 11 tahun (1929-1948), Ibu Teresa mengajar Geografi di SMA Santa Maria
(St. Mary High School) di Kalkuta. Meskipun ia bergembira dan penuh sukacita
mengajar, hatinya bergejolak ketika melihat dan menyaksikan penderitaan orang-
orang miskin akibat peperangan dan konflik yang berkepanjangan di Kalkuta. Kota
Kalkuta yang dulunya kota industri, menjadi kota yang semakin miskin dengan
banyak orang sakit dan hidupnya terlantar. Hatinya berkobar oleh panggilan Tuhan
untuk melayani mereka yang paling miskin dari antara orang-orang miskin. Panggilan
ini yang mendorong pengabdian diri sepenuhnya bagi orang-orang yang tak
dikehendaki kehadirannya, yang tersingkir dari lingkungan masyarakatnya.
Tantangan dan dinamika batin panggilan Tuhan terus bergejolak dalam hatinya,
sampai beliau mendapatkan izin dari Gereja Katolik untuk hidup di luar sekolah/biara
dan khusus mengabdikan diri untuk melayani orang yang termiskin dari antara yang
miskin di jalan-jalan Kalkuta.
Panggilan Melayani yang Termiskin di antara Orang-orang Miskin
Panggilan Tuhan terus berkobar dan menggema melalui peristiwa-peristiwa yang
dialami suster Teresa. Beliau mempelajari Bahasa Hindi dan Bengali untuk
mengajarkan Geografi dan katekese. Setelah beberapa tahun menjadi kepala sekolah
di sekolah SMA Santa Maria (St. Mary High School) di Kalkuta, pada tahun 1944
Tuhan menggema kan panggilan untuk melayani orang termiskin di jalan-jalan
Kalkuta. Karena kondisi makanan dan beratnya beban kerja pada saat itu, suster
Teresa jatuh sakit dan tidak dapat lagi mengajar, sehingga beliau dikirim ke kaki
18

