Page 15 - Semangat Berbagi Semangat Menginspirasi (1)
P. 15
Semangat Berbagi! Semangat Menginspirasi!
Lebih Dekat dengan Siswa Melalui Video Conference Oleh: Widi Rahayu - SMA Albidayah, Batujajar, Jawa Barat
Pembelajaran Jarak Jauh atau biasa disingkat menjadi PJJ menjadi “hantu” bagi para murid dan guru di seluruh dunia. Semua ini karena wabah COVID-19 yang membuat segala sektor mulai dari perekonomian hingga dunia pendidikan terkena imbasnya. Dengan munculnya wabah tersebut, menjadikan para guru dipaksa lebih kreatif untuk menyampaikan materi agar poin penting dari proses belajar mengajar tersampaikan. Dari yang biasanya bertemu secara tatap muka di ruang kelas, kini mereka tidak bisa melihat senyum ceria saat bertemu dengan para guru, bersalaman dengan penuh hormat, atau bertanya ini itu setelah pembelajaran berakhir. Semuanya kini terhalang oleh adanya PSBB, tetapi dari kejadian tersebut menjadikan pihak sekolah lebih inovatif dalam melakukan pelatihan pengajaran selama wabah COVID-19 ini.
Disekolah saya mengajar dibentuklah sebuah Tim IT yang bertugas mempermudah bapak/ibu guru untuk melangsungkan pembelajaran jarak jauh, sebelum dimulainya tahun ajaran baru, Tim IT mengadakan “In House Training”, yaitu semacam kegiatan pelatihan untuk para guru yang tentunya mematuhi protokol kesehatan. Kegiatan dilakukan selama tiga hari, dibagi menjadi tiga rombel, yaitu rombel IPA, IPS, dan BAHASA. Dalam pelatihan tersebut kami para guru diberikan materi pelatihan mulai dari Google Classroom, pembuatan video pembelajaran dari smartphone, hingga pelatihan mengoperasikan video conference, yaitu Zoom Meet. Saya paling tertarik dengan menggunakan video pembelajaran, karena saya menyadari generasi milenial sekarang yang duduk di bangku sekolah menengah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton video di YouTube, selain hal tersebut, juga karena saat itu kebetulan kuota bantuan internet dari pemerintah belum di dapatkan, baik oleh para murid maupun guru.
Proses pembuatan video pembelajaran ternyata membutuhkan waktu yang lumayan terbilang lama menurut saya, sedangkan materi setiap minggu harus berlanjut, tetapi saya terus pantang menyerah mencoba menerapkan media pembelajaran menggunakan video yang saya buat sendiri. Para murid sangat antusias dengan video pembelajaran yang saya buat, sehingga dari mereka banyak yang lebih mudah memahami.
Setelah berlangsung beberapa pertemuan, akhirnya keluhan mulai bermunculan, yaitu para murid memiliki kuota internet terbatas yang mengakibatkan mereka tidak bisa menonton video pembelajaran sampai beres. Saya pun menyadari, yang ditakutkan akhirnya terjadi juga. Kini otak saya sebagai seorang guru mulai bekerja ekstra lebih keras untuk memecahkan masalah tersebut.
Akhirnya kabar baik menghampiri juga, yaitu para siswa mendapatkan kuota internet yang berjumlah puluhan gigabyte. Saya bersama Tim IT di sekolah bekerja sama melaksanakan pembelajaran melalui aplikasi Zoom Meet, dengan berpedoman pembelajaran dilaksanakan maksimal 15 menit untuk pemberian materi di awal, kemudian para siswa mengerjakan latihan yang saya upload ke Google Classroom, lalu 10 menit diakhir pembelajaran melakukan Zoom Meet.
Pembelajaran melalui aplikasi Zoom Meet lebih interaktif, siswa lebih bahagia dengan penggunaan aplikasi Zoom Meet, mereka berpendapat bisa menangkap pembelajaran lebih baik dibandingkan menggunakan video, karena mereka bisa bertanya langsung kepada saya. Selain itu, Zoom Meet juga termasuk aplikasi yang diberikan kuota lebih besar daripada kuota utama, namun pihak sekolah tetap melakukan pembatasan untuk pembelajaran melalui aplikasi tersebut hanya dilaksanakan satu minggu sekali untuk setiap guru.
07

