Page 17 - Semangat Berbagi Semangat Menginspirasi (1)
P. 17
Semangat Berbagi! Semangat Menginspirasi!
Flipped Learning: Yes, It Works!
Oleh: Asep Gunawan, Al Irsyad Satya Islamic School, Jawa Barat
Ada sesuatu yang hilang selama masa pandemi ini. Sebelumnya, kita terbiasa disambut senyuman hangat dan cerita ceria anak-anak di setiap harinya. Namun, sekarang kita harus ikhlas dengan cukup bertemu via layar.
Tidak mudah memang. Anak-anak kehilangan interaksi sosial yang tidak dapat tergantikan oleh apa pun. Peran serta orang tua pun tidak dapat terpisahkan. Selain itu, para guru pun bergulat dengan hebatnya untuk mengupayakan kompetensi dapat terkuasai oleh siswa dengan segala keterbatasan yang ada.
Awalnya, saya pun merasa cukup kesulitan dengan keterbatasan ini. Keinginan agar siswa dapat menerima materi secara utuh tampak sulit terwujud. Jam belajar yang harus mengalami penyesuaian – biasanya setiap hari dapat berinteraksi, sekarang hanya dapat bertemu via online seminggu sekali. Lalu, apakah anak-anak saya hanya akan belajar hanya seminggu sekali pula untuk menguasai tuntutan kompetensi?
Tentu tidak, kan ada Flipped Learning!
Hal ini baru saya lakukan beberapa minggu terakhir ini. Konsep sederhananya, kita harus mempersiapkan secara lebih terstruktur, apa yang harus dilakukan sebelum, selama, dan sesudah pembelajaran. Tidak asing terdengar, ya? Saya yakin betul sebagian besar dari kita sudah melakukannya. Namun, bisa jadi kita tidak “melabelinya” atau belum menyusunnya secara terstruktur.
Secara bahasa, flipped artinya terbalik. Dalam konteks ini, kita coba balikan fungsi guru yang awalnya menjadi satu-satunya sumber informasi menjadi guru yang ‘cukup’ memainkan peran sebagai fasilitator dan membiarkan siswa belajar secara aktif. Lagi-lagi, konsep ini sering kita dengar ya?
Saya merasakan perubahan luar biasa. Sebelumnya, saya harus berebut akun premium sekolah karena ingin bisa bertemu siswa ‘lebih lama’ agar materi pembelajaran dapat tersampaikan secara utuh. Sekarang, saya dapat dengan lebih tenang memulai pembelajaran. Semua tidak lepas dari keyakinan dan kelegaan yang saya rasakan karena anak-anak sudah belajar dan memahami konsep dasar sebelum bertemu dengan saya 😊.
Di dalam konsep flipped learning, pembelajaran terbagi menjadi 3 bagian. Pada bagian “sebelum pembelajaran”, anak-anak akan fokus pada tahap “mengingat” dan “memahami”. Di sini, saya coba sajikan video penjelasan singkat tentang materi yang akan saya bahas ketika live teaching di hari kemudian. Selain video, saya pun siapkan beberapa pertanyaan sederhana dalam bentuk online quiz agar pemahaman siswa terkait video yang saya berikan lebih utuh.
Bagian kedua adalah “selama pembelajaran”. Pada bagian ini, kita dapat fokus pada tahapan “menerapkan” dan “menganalisis”. Di sini, live on action, saya berikan penguatan terkait materi yang sedang dipelajari.
Bagian terakhir adalah “setelah pembelajaran”, yaitu pada proses “menilai” dan “menciptakan”. Setelah live teaching, saya meminta anak-anak untuk menghubungkan apa yang mereka sudah pelajari dengan konsep nyata, riil, dan dekat dengan dunia mereka. Saya minta mereka untuk dapat menemukan contoh lain yang lebih kontekstual, dekat dengan kehidupan mereka, dan pastinya lebih mudah dipahami.
Dengan flipped learning ini, saya merasa tugas saya menjadi jauh lebih ringan. Hal ini dikarenakan siswa akan “lebih siap” sebelum bertemu saya. Setelah itu pun, konsep pembelajaran pun dapat melekat lebih lama ketika siswa memikirkan contoh riil yang dekat dengan kehidupan mereka.
Kita coba yuk.
09

