Page 96 - EMODULE ARTHROPODA MUSUH ALAMI
P. 96
Kunci Jawaban Uji Kompetensi 1 88
No Pertanyaan Kunci Jawaban
3. Pengendalian hayati dapat berkembang
dengan sendirinya (self propagating),
berkembang dan kekal (self perpetuating),
dan tidak perlu campur tangan manusia,
hanya perlu pengawasan agar tidak terjadi
pengubahan lingkungan yang dapat
mengganggu kehidupan musuh alami atau
perkembangannya berkelanjutan bila musuh
alami dapat menetap. Dalam pengendalian
hayati, resistensi dari hama terhadap ketiga
kelompok agens hayati tersebut hampir tidak
ada, walaupun ada kemungkinannya sangat
langkah. Selain kelebihan-kelebihan di atas,
pengendalian hayati memiliki kelemahan-
kelemahan. Pengendalian hayati dapat
membatasi penggunaan pestisida sintetik
pada waktu berikut. Suatu pertanaman ada
beberapa hama penting, maka penggunaan
insektisida harus dikurangi dan metode
aplikasinya harus benar, insektisida harus
spesifik dari segi kerja dan spesifik aplikasi.
Pengendalian hayati bekerjanya lambat
kecuali kalau pelepasannya bersifat
inundatif. Pengendalian hayati bukan
penentu dan tidak dapat memusnahkan atau
membunuh habis, seperti bahan kimia karena
masih perlu hama tersisa (hama residu).
Pengendalian hayati memang tidak untuk
tanaman yang memiliki ambang ekonomi
yang rendah sekali, seperti hortikultura
sayuran daun dan anggrek. Pengendalian
hayati umumnya lebih sulit diramal
keberhasilannya dibandingkan pengendalian
kimia. Umumnya keberhasilannya baru dapat
diketahui setelah penelitian yang luas dan
kurang waktu yang cukup lama.
4. Jelaskan secara singkat sejarah pengendalian Sejarah pengendalian hayati secara luas telah
hayati secara luas? dikemukakan (Sweetman, 2013) pada periode
awal tercatat kegiatan pengendalian hayati
yang pertama pada tahun 1200 oleh petani
jeruk keprok di Cina yang menggunakan
predator Oecophylla smaragdina untuk
mengendalikan Tessarotoma papillosa,
dimana sarang ditaruh di pohon jeruk dan leci
(H & Pei, 1987) Keberhasilan pengendalian
hayati tercatat pada tahun 1920 sampai 1940,
dimana tercatat dilakukan sebanyak 85 kali
introduksi selama periode tahun 1920-1940
(Mangorendihardjo & Mahrub, 1983).

