Page 218 - FIKIH MA KELAS XI
P. 218
meninggalkan harta warisnya. Berikut penjelasan singkat keempat sebab-sebab
seseorang yang termasuk dalam kategori mamnu’ al-irs tersebut :
1. Pembunuh ( لاقاتل )
Orang yang membunuh salah satu anggota keluarganya maka ia tidak
berhak mendapatkan harta warisan dari yang terbunuh. Dalam salah satu qaidah
fiqhiyah dijelaskan:
ََََ
َ َ َ َ ََََ َ
َ َ َ َ
َ )الأشبا هولانظائر( منتعجلشيئاقبلأوانهع وقب بحرمانه
َ َ َ َ َ َ َ
Artinya: "Barangsiapa yang tegesa-gesa untuk mendapatkan sesuatu, maka ia tidak
diperbolehkan menerima sesuatu tersebut sebagai bentuk hukuman untuknya.”
Seorang pembunuh tidak akan mewarisi harta yang terbunuh. Rasulullah Saw.
bersabda:
َ َ َ َ َ
َ َ َ َ َ َ ل َ َ ََ
» ي ء لي س لق ات ل من لامير اث ش« : لا له صل لاله علي ه وسلم قلَ رسو ى َ َ َ َ َ
ل
َ َ
Artinya: Rasulullah Saw. bersabda “ Bagi pembunuh tidak berhak mendapatkan
warisan sedikitpun”.(HR. an-Nasa’i dan al-Daruqutni)
Dalam masalah tidak berhaknya pembunuh mendapatkan harta warisan
orang yang terbunuh, sebagiain ulama memisahkan sifat pembunuhan yang
terjadi. Jika pembunuhan yang dilakukan masuk dalam kategori sengaja, maka
pembunuh tidak mendapatkan harta warisan sepeser pun dari korban. Adapun jika
pembunuhannya bersifat tersalah maka pelakunya tetap mendapatkan harta waris.
Pendapat ini dianut oleh imam Malik bin Anas dan pengikutnya.
2. Budak ( لاعبد )
Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak berhak mendapatkan harta
warisan dari orangtuanya. Demikian juga sebaliknya, orangtuanya tidak berhak
mendapatkan warisan dari anaknya yang berstatus budak karena ketika
seseorang menjadi budak, maka ia berada dibawah penguasaan orang lain.
Terkait dengan hal ini Allah Swt berfirman:
ََ ََ َ ََ َََََََََََ
َََََََََ
َ يء ضربلالهمثلعبداملموكاَليق درعلىش