Page 16 - NUR HADIYANI LIZA PUTRI_1813041019_INDRA PENGLIHATAN
P. 16
2. Hipermetropia
Hipermetropia atau yang dikenal juga dengan
istilah hipermetropia dan farsightedness adalah
keadaan mata tak berakomodasi yang
memfokuskan bayangan di belakang retina. Sama
seperti miopia, hal ini disebabkan oleh karena
berkurangnya panjang sumbu bola mata yang
disebut dengan hipermetropia aksial dan
Gambar 07. Hipermetropia
menurunnya indeks refraksi seperti pada afakia
yang disebut dengan hipermetropia refraktif
(Riordan-Eva, 2009). Pada hipermetropia aksial,
ukuran kornea dan bola mata biasanya lebih kecil
daripada normal (Newell, 1996). Hipermetropia
Refraksi pada mata yang mengalami
hipermetropia, dimana bayangan jatuh di depan
belakang retina
Tanda dan gejala orang yang terkena penyakit rabun dekat secara obyektif klien susah
melihat jarak dekat atau penglihatan klien akan rabun dan tidak jelas. Sakit kepala frontal.
Semakin memburuk pada waktu mulai timbul gejala hipermetropi dan sepanjang penggunaan
mata dekat. Tanda dan gejalanya diantaranya yaitu (Ilyas, 2006):
1. Penglihatan tidak nyaman (asthenopia)
2. Terjadi ketika harus fokus pada suatu jarak tertentu untuk waktu yang lama.
3. Akomodasi akan lebih cepat lelah terpaku pada suatu level tertentu dari ketegangan.
4. Bila 3 dioptri atau lebih, atau pada usia tua, pasien mengeluh penglihatan jauh kabur.
5. Penglihatan dekat lebih cepat buram, akan lebih terasa lagi pada keadaan kelelahan, atau
11
penerangan yang kurang.
6. Sakit kepala biasanya pada daerah frontal dan dipacu oleh kegiatan melihat dekat jangka
panjang. Jarang terjadi pada pagi hari, cenderung terjadi setelah siang hari dan bisa

