Page 32 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 31 OKTOBER 2019
P. 32

Title          RISKAN, KENAIKAN UMP YANG TERLALU TINGGI DINILAI BISA PICU PHK
               Media Name     tempo.co
               Pub. Date      30 Oktober 2019
                              https://bisnis.tempo.co/read/1266093/riskan-kenaikan-ump-yang-terlalu- tinggi-dinilai-
               Page/URL
                              bisa-picu-phk
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative










               Ekonom menilai industri padat karya sebaiknya dikecualikan dalam kebijakan
               kenaikan upah minimum provinsi (UMP) pada tahun depan. Pasalnya, kenaikan UMP
               yang terlalu tinggi dinilai akan menurunkan daya saing industri padat karya.

               Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal
               mengatakan kenaikan UMP pada kondisi industri saat ini dapat berujung pada
               perumahan tenaga kerja. Pasalnya, kenaikan UMP pada tahun depan lebih dari 8
               persen tidak sejalan dengan pertumbuhan produktivitas tenaga kerja industri yang
               hanya 2-3 persen tahun ini.

               Oleh karena itu, Faisal mengharapkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 45/2019 dapat
               membantu. Pasalnya, beleid tersebut memiliki klausul pengurangan pajak
               penghasilan sebesar 60 persen

               "Asal eksekusinya cepat dan mudah. Selain itu, mudah mendapatkannya. Pemberian
               insentif itu harus dijalankan dengan konsisten dan cepat eksekusinya," katanya
               kepada Bisnis, Selasa 29 Oktober 2019.

               Sementara itu, ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal mengatakan
               kenaikan UMP pada tahun depan sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Hal
               tersebut disebabkan oleh adanya aturan yang jelas dalam penambahan UMP yakni
               pertumbuhan ekonomi plus inflasi.

               Namun, kenaikan UMP pada tahun depan masih dinilai berat lantaran masalah
               produktivitas tenaga kerja nasional belum selesai. Menurutnya, kenaikan UMP
               seharusnya dua kali dari pertumbuhan produktivitas tenaga kerja. Artinya, Fithra
               mengusulkan UMP tahun depan hanya naik 4-6 persen

               "Sebesar 8,5 persen ini cenderung tinggi. Artinya, akan ada kemungkinan lay-off
               atau switchingdari tenaga kerja menuju otomatisasi. Kalau sudah otomatisasi,
               potensi PHK [pemutusan hubungan kerja] PHK lebih tinggi. Dampak jangka
               menengah adanya relokasi industri keluar Indonesia. Investasi yang masuk akan
               menahan dan diversi," katanya.

               Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Benang dan Filamen (APSyFI) Redma




                                                       Page 31 of 173.
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37