Page 166 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 JUNI 2020
P. 166

peraturan upah minimum dalam RUU Cipta Kerja akan memberi jaminan kesejahteraan bagi
              pekerja.

              RUU CIPTA KERJA DINILAI KEMBALIKAN TUJUAN UTAMA UPAH MINIMUM
              PEKERJA

              Merdeka.com -  DPR akan menjadikan RUU Cipta Lapangan Kerja sebagai salah satu fokus kerja
              padamasa persidangan IV. Salah satu poin yang menjadi kontroversi adalah soal upah pekerja
              atau buruh.

              Pengamat ketenagakerjaan dari Indonesian Consultant at Law (IClaw), Hemasari Dharmabumi
              menyatakan  RUU  Cipta  Kerja  sebenarnya  bisa  dampak  positif  bagi  buruh.  Dia  mengatakan
              peraturan upah minimum dalam RUU Cipta Kerja akan memberi jaminan kesejahteraan bagi
              pekerja.

              "Menurut saya ketentuan upah minimum di dalam RUU Cipta Kerja itu akan berdampak positif
              untuk beberapa hal," ujar Hemasari saat dihubungi  Hemasari menuturkan RUU Cipta Kerja
              nantinya hanya akan mengenal dua jenis upah minimum, yakni upah minimum provinsi dan
              industri  padat  karya.  Khusus  kewilayahan,  dia  mengatakan  upah  minimum  kabupaten/kota
              (UMK) dan upah minimum sektoral kabupaten (UMSK) akan hilang.

              "Jadi apakah ini dampaknya sangat negatif? Tidak, karena Indonesia sekarang ini terdapat lebih
              dari 333 jenis upah minimum. Satu provinsi seperti Jawa Barat itu mempunyai 28 jenis upah
              minimum  karena  kabupaten/kota  masing-masing  punya  upah  minimum  dengan  nilai  yang
              berbeda dan ini membingungkan," ujarnya.

              Lebih lanjut, Hemasari menyampaikan RUU Cipta Kerja telah mengembalikan tujuan utama dari
              upah minimum, yakni sebagai jaring pengaman. Selain itu, RUU Cipta kerja mengatur bahwa
              upah minimum berlaku bagi pekerja/buruh dengan masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun pada
              perusahaan yang bersangkutan.

              "Kalau sekarang kan bukan safety net. Upah minimum mengejar kesejahteraan sehingga karena
              upah  minimum  itu  saking  tingginya  maka  kemudian  para  pekerja  dan  yang  sudah  bekerja
              puluhan tahun pun dapatnya upah minimum itu," ujar Hemasari.

              "Padahal ketentuan upah minimum seharusnya diterapkan menjadi safety net," ujarnya.

              Terkait  dengan  upah  minimum,  dia  juga  menyampaikan  seharusnya  menjadi  patokan  upah
              untuk orang yang bekerja pada masa percobaan atau di bawah satu tahun. Sedangkan yang
              lebih dari waktu tersebut, ditetapkan tidak boleh sama dengan upah minimum, yakni harus di
              atas upah minimum dengan skala upah.

              "Nah pertanyaannya bagaimana cara menetapkannya upah yang diatas upah minimum itu? UU
              mengatakan dirundingkan antara buruh dan perusahaan. Buruh itu bisa langsung, bisa lewat
              perwakilan atau bisa lewat serikat pekerja. Jadi fungsi perundingan itu yang nomor satu nanti,"
              ujar Hemasari.

              1 dari 1 halaman  Sebelumnya, Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan
              Sosial  Tenaga  Kerja  (Ditjen  PHI  JSK)  Kementerian  Ketenagakerjaan,  Haiyani  Rumondang
              menegaskan bahwa tidak ada penghapusan upah minimum dalam RUU Omnibus Law Cipta
              Kerja.

              "Jadi upah minimum itu tidak dihilangkan, tapi ada upah provinsi," ujar dia.

              Sebelumnya, ada beberapa poin dalam omnibus law yang menjadi kontroversi, di antaranya:  -
              Hilangnya upah minimum  - Hilangnya pesangon  - PHK sangat mudah dilakukan  - Karyawan
   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171