Page 69 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 JUNI 2020
P. 69

KEMENAKER EVALUASI TAHAPAN REKRUTMEN ABK WNI DI KAPAL ASING

              -  Sejumlah  kasus  eksploitasi  anak  buah  kapal  (ABK)  WNI  di  kapal  asing  mulai  muncul  ke
              permukaan  baru-baru  ini.  Untuk  mencegah  hal  serupa  terjadi  kembali,  pemerintah  berjanji
              segera membenahi tata kelola dalam penempatannya.

              Hal  tersebut  disampaikan  Menteri  Ketenagakerjaan  (Menaker)  Ida  Fauziyah  dalam  acara
              peluncuran Policy Brief tentang Perbaikan Tata Kelola Perlindungan ABK Indonesia di Kapal Ikan
              Asing melalui video conference, Kamis (18/6). Ida menyatakan, pemerintah telah dan terus
              berupaya  untuk  melakukan  langkah-langkah  pembenahan  perlindungan  bagi  awak  kapal
              perikanan.

              Diakuinya, selama ini persoalan tersebut terjadi dimulai bahkan sejak hulu. Mulai dari proses
              pemberian izin bagi perusahaan yang akan menempatkan awak kapal, proses rekrutmen, dan
              pendataan. Lalu, proses pelatihan dan sertifikasi, proses pelatihan calon awak kapal, hingga
              proses pengawasannya.

              "Tahapan-tahapan tersebut mutlak kita lakukan evaluasi dan langkah-langkah pembenahan,"
              tegasnya. Harapannya, tak ada lagi kasus eksploitasi atau pelanggaran perjanjian kerja lagi.

              Terkait soal perlindungan bagi ABK, Ida mengatakan bahwa sejatinya perlindungan ini sudah
              tertera  dalam  Undang-Undang  Nomor  18  Tahun  2017  tentang  Perlindungan  Pekerja  Migran
              Indonesia  (PPMI).  Secara  jelas  menyatakan  bahwa  awak  kapal  perikanan  Indonesia  yang
              bekerja  di  kapal  berbendera  asing  merupakan  bagian  dari  PMI.  Perlindungan  ini  mencakup
              perlindungan  sebelum,  selama,  dan  setelah  bekerja.  "PMI  juga  dilindungi  dari  segi  hukum,
              sosial, dan ekonomi," ujarnya.

              Ida berpandangan, dalam rangka mewujudkan tata kelola penempatan awak kapal yang lebih
              baik, pendayagunaan potensi laut nasional beserta isinya mutlak harus dilakukan. Sehingga laut
              Indonesia dapat dimanfaatkan oleh rakyatnya sendiri.

              "Maka ke depannya para nelayan atau pun awak kapal perikanan kita tidak lagi hanya bekerja
              di kapal asing tapi juga kapal Indonesia yang baik," ungkap Ida.

              Selain itu, pemerintah telah menggandeng pihak kepolisian dalam menangani kasus perbudakan
              modern  ABK  ini.  Termasuk  dalam  kasus  dua  ABK  WNI  yang  nekat  melompat  dari  kapal
              berbendera Tiongkok Lu Qing Yuan Yu 901.

              Sementara itu, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia
              Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Judha Nugraha menuturkan, berdasarkan informasi yang
              diterimanya, pihak polda Kepulauan Riau telah menetapkan tiga tersangka atas kasus tersebut.
              Yakni, direktur dan komisaris PT MTB, pihak penyalur kedua ABK tersebut.

              "Ketiganya  juga  jadi  tersangka  yang  ditetapkan  Polda  Jateng  atas  kasus  ABK  yang  lain,"
              ungkapnya.

              Selain itu, Kemenlu juga telah menindaklanjuti seluruh kasus para ABK WNI dengan bertemu
              dengan Kemenlu Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Beijing. Dari pertemuan yang dilakukan
              oleh  KBRI  Beijing  tersebut,  Kemenlu  RRT,  Kementerian  Pertanian  dan  Urusan  Pedesaan
              Tiongkok,  dan  Pemerintah  Kota  Dalian  berjanji akan  melakukan  langkah  lebih  lanjut  seperti
              desakan Indonesia.

              "Dalam  hal  ini  Pemkot  Dalian  telah  membentuk  satgas  antar  departemen  untuk  melakukan
              investigasi terhadap kasus yang menimpa anak buah kapal (ABK) WNI," ungkap Judha.
   64   65   66   67   68   69   70   71   72   73   74