Page 272 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 Mei 2019
P. 272
Kesejahteraan buruh masih jauh panggang dari api dibandingkan dengan harga
kebutuhan hidup yang terus melonjak. Perjuangan hak-hak itu akan masih panjang
di waktu mendatang. Tak ada kata lelah, tak ada kata berhenti menuntut hak yang
seharusnya dinikmati para buruh dengan perbandingan bilangan angka layak dan
seimbang.
Boleh dikatakan, upah buruh hanya cukup untuk makan dengan keluarganya
sementara untuk menabung hanya bunga-bunga mimpi kesejahteraan. Eksploitasi
buruh masih terjadi, tenaga merrka diperas para konglomet dan pengusaha
semntara mereka tetaplah miskin atau dengan sengaja dimiskin secara struktural
melalui regulasi pemerintah berkonco dengan pengusaha.
Tak ada kepastian jaminan kesehatan, hak cuti dihambat, hak mogok diancam, hak
cuti hamil dihalangi. Mereka tetap harus kerja demi pundi-pundi dollar sang
konglomet tanpa hati. Banyak kasus buruh dianiaya bahkan dibunuh karena
menuntut hak-haknya.
Kasus Marsinah yang melegenda, seorang buruh perempuan diculik dan dibunuh
1993 di Sidoarjo, Jawa Timur karena menuntut kenaikan upah dan cuti bagi
perempuan berhalangan yang hingga saat ini masih menjadi tabir misteri tak
terungkap.
Bahkan dalam kasus "pabrik kuali" di Tangerang ada buruh anak disekap, dan
dijadikan budak perusahaan. Mereka tidak bisa keluar perusahaan dan terus bekerja
seperti mesin-mesin dipabrik besar hingga tak kenal malam dan siang. Walhasil,
pemilik perusahaan akhirnya dipidana 11 tahun. Hal sama berlangsung dipelbagai
pabrik-pabrik lainnya yang tak terjangkau media.
Definisi buruh juga dipersempit hanya mereka yang bekerja di perusahaan dengan
jenis pekerjaan yang tersedia, di mana ada pekerja, pemberi kerja dan pekerjaan itu
sendiri sebagaimana ketentuan Pasal 1 ayat (3) UU Ketenagakerjaan juncto Pasal 1
ayat (6) UU Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh yang pada
pokoknya memberi defini bahwa pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja
dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
Dengan makna itu, Pembantu Rumah Tangga juga adalah buruh, pekerja kantoran,
pekerja media, bahkan dosen sekalipun adalah buruh. Mereka memiliki hak dan
kewajiban yang diatur menurut jenis pekerjaannya dan mendapat gaji atau imbalan
dari pekerjaannya itu.
Dapat dibayangkan jika para buruh itu satu suara dan gerak langkah dan melakukan
pemogokan massal secara serentak dalam waktu yang sama betapa dahsyat
kekuatan politik buruh andaikata mereka bisa satu dalam melakukan tekanan politik
mengubah kebijakan yang merugikan hak-haknya.
Sayangnya, kekuatan buruh itu tidak terkelola secara baik, organisasi buruh
terpecah belah bakan cenderung bersaing antar mereka merbut panggung publik
Page 271 of 656.

