Page 17 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 31 MEI 2019
P. 17
Ketenagakerjaan RI, Ristadi mengatakan, industri tekstil sudah lampu kuning. Di
Jabar khususnya, Bandung Raya, industri tekstilnya terbesar di Indonesia jumlahnya
lebih dari 800an. Namun, dengan adanya produk impor, semua perusahaan
terpukul.
"Tapi yang paling terpukul produk impor industri padat karya ini. Pusat tekstil di
Bandung raya sekarang batuk-batuk. Banyak yang rasionalisasi karyawan, banyak
yang sudah tutup pabriknya. Ini lama-lama kan tekstil tinggal cerita," paparnya.
Menurut Ristadi, saat ini banyak pengusaha tekstil yang sudah beralih ke bisnis
perhotelan. Misalnya, Danar Mas yang mengalihkan usahanya ke perhotelan di
kawasan Dago.
"Banyak yang pindah karena tekstil semakin lama semakin berat. Harga bahan baku
tinggi. Intensif pemerintah masih setengah hati untuk menyuntik padat karya,"
katanya.
Berdasarkan laporan anggotanya, kata dia, per Januari karyawan tekstil yang
dirumahkan ada 265 ribu anggota se Indonesia. Sementara yang rasionalisasi ada
21 ribu orang.
"Itu yang lapor ke kami se Indonesia. Tapi, dari 265 ribu itu paling banyak tetap 90
persennya ada di Jabar," katanya.
Ristadi berharap, pemerintah tak membiarkan kondisi tersebut dan melakukan
berbagai upaya. Salah satunya, membatasi barang impor masuk ke Indonesia dan
menaikkan tarif bea masuk supaya harganya sama dengan produk lokal.
"Jadi ada pilihan konsumen akan berpikir untuk tetap memakai produk lokal. Kalau
kualitas sama, harga impor lebih murah mati lah kita," katanya.
Page 16 of 166.

