Page 874 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 874

negative  -  Jumisih  (Wakil  Ketua  Konfederasi  Persatuan  Buruh  Indonesia  (KPBI))  Pasti  kami
              sangat kecewa sekali, kita marah, ingin nangis, ini kekecewaan yang luar biasa buat buruh dan
              pekerja yang masih bekerja di pabrik

              negative - Jumisih (Wakil Ketua Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI)) Mereka yang
              punya  uang  punya  kuasa,  jadi  sbgai  negara  yang  punya  cita-cita  tetapi  secara  hukum  tidak
              mendapatkan itu denga diberlakunya ominus law

              positive - Jumisih (Wakil Ketua Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI)) Jadi sebetulnya
              pemerintah sedang mewariskan kehancuran untuk generasi kita dan genrasi akan datang. Jadi
              pemeritnah mewariskan bukan kebaikan tapi kehancuran untuk rakyatnya sendiri, per har ini



              Ringkasan
              Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah,  menegaskan  pembahasan  RUU    Cipta  Kerja    telah
              dijalankan secara Tripartit dan sesuai dengan kesepakatan antar pihak yang terkait.  Menurutnya
              Pemerintah menegaskan bahwa proses penyusunan RUU  Cipta Kerja  sejatinya telah melibatkan
              partisipasi  publik,  baik  unsur  pekerja/buruh  yang  diwakili  serikat  pekerja/serikat  buruh,
              pengusaha, kementerian/lembaga, praktisi dan akademisi dari perguruan tinggi serta lembaga
              lainnya, seperti International Labour Organization (ILO).


              MENAKER SEBUT RUU CIPTA KERJA SUDAH LIBATKAN BURUH DAN PENGUSAHA

              Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah,  menegaskan  pembahasan  RUU    Cipta  Kerja    telah
              dijalankan secara Tripartit dan sesuai dengan kesepakatan antar pihak yang terkait.

              "Rumusan klaster ketenagakerjaan yang ada dalam RUU Cipta Kerja saat ini merupakan intisari
              dari  hasil  kajian  pakar/ahli,  focus  group  discussion  (FGD),  Rembug  Tripartit  (pemerintah,
              pekerja/buruh dan pengusaha) yang sejak lama dilakukan atas beberapa materi ketenagakerjaan
              yang krusial," kata Ida dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (6/10/2020).

              Menurutnya Pemerintah menegaskan bahwa proses penyusunan RUU  Cipta Kerja  sejatinya
              telah melibatkan partisipasi publik, baik unsur pekerja/buruh yang diwakili serikat pekerja/serikat
              buruh,  pengusaha,  kementerian/lembaga,  praktisi  dan  akademisi  dari  perguruan  tinggi  serta
              lembaga lainnya, seperti International Labour Organization (ILO).

              Bahkan pada saat RUU Cipta Kerja telah masuk dalam tahap pembahasan di DPR. Sesuai arahan
              presiden  pada  tanggal  24  April  2020,  Pemerintah  melakukan  kembali  pendalaman  rumusan
              klaster ketenagakerjaan yang melibatkan pengusaha (APINDO) dengan perwakilan Konfederasi
              Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

              "Dalam pertemuan tersebut, pemerintah banyak menerima masukan dari serikat pekerja/serikat
              buruh. Dengan proses yang telah dijalankan ini, pemerintah telah dengan seksama menyerap
              berbagai aspirasi, khususnya dari unsur pekerja/buruh," ujarnya.

              Kendati  begitu,  Pemerintah  menyadari  dalam  proses  penyusunan  RUU  Cipta  Kerja,  terdapat
              perbedaan  pandangan pro-kontra. Perbedaan  pandangan  ini  tentu  saja merupakan  hal  yang
              wajar dalam dinamika sosial dan demokrasi.

              Namun demikian, pada akhirnya Pemerintah harus memutuskan dan menyiapkan draf yang akan
              dibahas bersama DPR. Disisi lain, proses pembahasan RUU Cipta Kerja antara Pemerintah dan
              DPR berjalan secara transparan.


                                                           873
   869   870   871   872   873   874   875   876   877   878   879