Page 875 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 875

Kata  Ida,  ini  untuk  pertama  kalinya  pembahasan  suatu  RUU  dilakukan  secara  terbuka  dan
              disiarkan melalui kanal-kanal media sosial yang tersedia. Hal ini dimaksudkan agar publik dapat
              mengawal proses pembahasan RUU Cipta Kerja secara seksama.

              "Kita telah menyaksikan bahwa proses pembahasan RUU  Cipta Kerja  di DPR berjalan dinamis,
              demokratis dan konstruktif. Pemerintah menerima banyak masukan dari Panja DPR sehingga
              menghasilkan perubahan rumusan ketentuan dalam klaster ketenagakerjaan," pungkasnya.

              Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta
              Kerja  menjadi  Undang-Undang  pada  Senin  kemarin.  Omnibus  Law  UU  Cipta  Kerja  ini
              dimaksudkan untuk menopang ekonomi Indonesia melalui investasi.

              Namun,  Sejumlah  ekonom  justru  mengatakan  sebaliknya.  Alih-alih  menjadi  ladang  investasi
              untuk  menimba  untung  sebesar-besarnya,  Executive  Director  at  Indonesia  Economic  Action
              Institution, Ronny P. Sasmita menilai Indonesia hanya akan menjadi sasaran eksploitasi bagi
              negara besar.
              "Bagi China, melalui UU ini Indonesia akan dengan mudah menjadi lahan eksploitasi segala jenis
              sumber daya alam yang akan menopang semakin meraknya industrialisasi di China. Mulai dari
              batu bara, bijih besi, sampai Nikel. Jadi investor yang akan datang dari China, akan sangat terkait
              dengan kepentingan untuk menjaga kedigdayaan China dalam supply chain dunia, bukan untuk
              membuat Indonesia menerima manfaat sebesar-besarnya," kata dia kepada Selasa (6/10/2020).

              Hal ini, lanjut Ronny, diperparah dengan kondisi politik Indonesia yang menurutnya tidak jelas.
              Sementara investor dari negara besar lainnya seperti AS, sangat sensitif terhadap isu politik dan
              geopolitik negara di mana mereka akan berinvestasi.

              "Nah,  terkait  posisi  Indonesia  yang  kurang  jelas  dalam  konstelasi  perang  dagang,  baik  soal
              Huawei, Tiktok, dan Wechat, soal Uighur, soal Hong Kong, soal Taiwan, soal Laut China Selatan,
              dan lainya. Maka sudah bisa diperkirakan bahwa Indonesia belum akan menjadi prioritas dalam
              perpindahan investasi Amerika dari China," kata dia.

              Dalam kesempatan yang berbeda, Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara mengutarakan
              hal serupa. Ia menilai, Omnibus Law UU Cipta Kerja ini tidak lantas membuat tren investasi
              meningkat secara signifikan. Terlebih saat ini Indonesia berada dalam ambang resesi. Dimana
              situasi ekonomi mengalami ketidakpastian, baik dari dalam maupun luar negeri.

              Juga  pencabutan  sejumlah  hak  pekerja  dalam  Omnibus  Law  UU  Cipta  Kerja  ini,  dapat
              mempengaruhi persepsi investor khususnya dari negara maju, terhadap Indonesia. Sebab, di
              negara maju sangat menjujung tinggi hak pekerja.

              "Bahkan dengan dicabutnya hak hak pekerja dalam omnibus law, tidak menutup kemungkinan
              persepsi investor khususnya negara maju jadi negatif terhadap indonesia. Investor di negara
              maju sangat menjunjung fair labour practice dan decent work dimana hak hak buruh sangat
              dihargai bukan sebaliknya menurunkan hak buruh berarti bertentangan dengan prinsip negara
              maju," jelas Bhima.

              Wakil  Ketua  Konfederasi  Persatuan  Buruh  Indonesia  (KPBI),  Jumisih,  mengutarakan  sikap
              kekecewanya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang telah mengesahkan RUU Cipta Kerja
              menjadi Undang-Undang. Pengesahan tersebut, dianggal terlalu cepat dan sangat merugikan
              buruh di tengah kondisi terjadi sekarang ini.

              "Pasti kami sangat kecewa sekali, kita marah, ingin nangis, ini kekecewaan yang luar biasa buat
              buruh dan pekerja yang masih bekerja di pabrik," kata dia saat dihubungi, Senin (5/10/2020).




                                                           874
   870   871   872   873   874   875   876   877   878   879   880