Page 883 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 883

Ringkasan

              Pemprov Jabar   menyarankan kepada serikat  buruh  atau pekerja untuk melakukan  judicial
              review  jika merasa keberatan dengan sejumlah poin dalam  UU Cipta Kerja  yang telah disahkan
              DPR RI.

              Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, Taufik Garsadi, mengatakan
              pihaknya  meminta    buruh    untuk  melakukan  konsolidasi  internal  terlebih  dulu  dan  tidak
              menggelar aksi mogok kerja serta unjuk rasa.



              PEMPROV JABAR SARANKAN BURUH AJUKAN JUDICIAL REVIEW UU CIPTA KERJA,
              JANGAN DEMO

              Pemprov Jabar  menyarankan kepada serikat  buruh  atau pekerja untuk melakukan  judicial
              review  jika merasa keberatan dengan sejumlah poin dalam  UU Cipta Kerja  yang telah disahkan
              DPR RI.

              Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, Taufik Garsadi, mengatakan
              pihaknya  meminta    buruh    untuk  melakukan  konsolidasi  internal  terlebih  dulu  dan  tidak
              menggelar aksi mogok kerja serta unjuk rasa.

              "Silahkan konsolidasi saja, ajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Sekarang kalau unjuk
              rasa izinnya tidak dikeluarkan oleh polisi. Undang-Undang juga sudah ditetapkan oleh DPR,"
              katanya saat dihubungi, Selasa (6/10).

              Menurutnya, langkah  judicial review  lebih baik jika dibandingkan dengan melakukan mogok
              kerja dan unjuk rasa yang memiliki risiko lebih besar, terutama dalam penyebaran Covid-19.

              "Di Jabar ada serikat  buruh  yang mengajak mogok kerja dan unjuk rasa, ada yang menolak
              dan tidak ikut. Kami bersama Disnaker di daerah mengimbau jangan mogok dan unjuk rasa,
              karena risikonya besar," katanya.

              Taufik mengatakan pihaknya mengimbau  buruh  untuk menolak unjuk rasa dan mogok kerja.
              Sebab, katanya, para  buruh  harus mengetahui secara detail isi  UU Cipta Kerja  sendiri terlebih
              dulu supaya mengetahui apa yang diperjuangkannya.
              Dia  menilai  muncul  sejumlah  narasi  yang  hadir  di  kalangan  awam  bahwa  UU  Cipta  Kerja
              merugikan para pekerja tidak boleh ditelan bulat-bulat.

              "Kata Ibu Menaker, sebetulnya tuntuntan  buruh  sudah masuk diakomodir ke UU, walaupun kita
              belum menerima secara resmi. Poin seperti misalnya outsourcing dihilangkan itu kan tidak ada,"
              ujarnya.

              Aksi unjuk rasa, tuturnya, dikhawatirkan rentan menjadi klaster penyebaran Covid-19. Taufik
              menilai risiko ini berbahaya karena jika terjadi, entah siapa pihak yang akan bertanggung jawab.

              "Risiko pemecatan dari perusahaan, itu bisa jadi masalah. Kasihan masyarakat, mereka yang
              bukan pekerja bakal terkena dampak," katanya.
              Taufik  sendiri  memastikan  Pemerintah  Provinsi  Jabar  tidak  bisa  berbuat  banyak  menerima
              keluhan dan tuntutan dari  buruh  mengingat UU sudah disahkan oleh DPR bersama pemerintah.

              "Kita  tidak  punya  kewenangan.  Gubernur  saja  tidak  mungkin  menolak Undang-Undang.  Jadi
              saran  judicial review  menurut kami bentuk win-win solution," katanya.


                                                           882
   878   879   880   881   882   883   884   885   886   887   888