Page 888 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 888

MENAKER: SUSUNAN KLASTER KETENAGAKERJAAN TELAH LEWATI UJI MATERI DI
              MAHKAMAH KONSTITUSI
              Buruh atau pekerja menuntut kepada pemerintah karena di dalam Omnibus Law Undang-Undang
              (UU) Cipta Kerja yang telah disahkan ini ada beberapa hal yang dinilai merugikan.

              Seperti  pekerja  kontrak  atau  PKWT  dikontrak  seumur  hidup,  nasib  outsourcing  yang
              mendapatkan  upah  rendah,  hak  cuti,  perusahaan  mempekerjakan  buruh  secara  eksploitatif
              dengan upah rendah, serta UMK dan UMSK yang dihapus.

              Kendati  telah  disahkan,  dapatkah  pemerintah  mengubah  UU  tersebut  terutama  pada  klaster
              ketenagakerjaan?

              Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah  pun  menegaskan  penyusunan  ketentuan  klaster
              ketenagakerjaan  telah  dipertimbangkan  melalui  hasil  putusan  Mahkamah  Konstitusi  atas  uji
              materi UU Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003.

              "Penyusunan  ketentuan  klaster  ketenagakerjaan  memperhatikan  hasil  putusan  Mahkamah
              Konstitusi atas uji materi UU Nomor 13 Tahun 2003," ujarnya melalui keterangan tertulis, Selasa
              (6/10/2020).

              Lalu  dijelaskan,    UU  Cipta  Kerja    tetap  mengatur  syarat-syarat  dan  perlindungan  hak  bagi
              pekerja/buruh PKWT yang menjadi dasar dalam penyusunan perjanjian kerja. Di samping itu,
              RUU Cipta Kerja mengatur perlindungan tambahan berupa kompensasi kepada pekerja/buruh
              pada saat berakhirnya PKWT.

              Dia kembali menjelaskan bahwa syarat-syarat dan perlindungan hak bagi pekerja/buruh dalam
              kegiatan alih daya (outsourcing) masih tetap dipertahankan.

              Bahkan  UU  Cipta  memasukkan  prinsip  pengalihan  perlindungan  hak-hak  bagi  pekerja/buruh
              apabila  terjadi  pergantian  perusahaan  alih  daya.  Hal  ini  sesuai  dengan  amanat  putusan
              Mahkamah Konstitusi No. 27/PUU-IX/2011.

              Mengenai ketentuan waktu kerja dan waktu istirahat, lanjut Ida, tetap diatur seperti UU eksisting
              (UU 13/2003) dan menambah ketentuan baru mengenai pengaturan waktu kerja dan waktu
              istirahat pada sektor usaha dan pekerjaan tertentu. Hal ini menurutnya, untuk mengakomodir
              tuntutan perlindungan pekerja/buruh pada bentuk-bentuk hubungan kerja dan sektor tertentu
              di era ekonomi digital saat ini yang berkembang secara dinamis.
              Penjelasan lainnya dari Ida yaitu UU Cipta Kerja tetap mengatur hak-hak dan perlindungan upah
              bagi pekerja/buruh sebagaimana peraturan perundang-undangan eksisting (UU 13/2003 dan PP
              78/2015) dan selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah yang baru.

              Di dalam UU Cipta Kerja, menurut dia, juga memperkuat perlindungan upah bagi pekerja/buruh
              serta meningkatkan pertumbuhan sektor usaha mikro dan kecil.

              "Terdapat  penegasan  variabel  dan  formula  dalam  penetapan  upah  minimum  berdasarkan
              pertumbuhan  ekonomi  dan  inflasi.  Selain  itu,  ketentuan  mengenai  upah  minimum
              kabupaten/kota (UMK) tetap dipertahankan. Dengan adanya kejelasan dalam konsep penetapan
              upah minimum dimaksud, maka UU Cipta Kerja menghapus ketentuan mengenai penangguhan
              pembayaran upah minimum," ujarnya.

              Menteri  dari  Partai  Kebangkitan  Bangsa  (PKB)  ini  juga  menjelaskan  mengenai  pemutusan
              hubungan kerja (PHK). UU Cipta Kerja tetap memberikan ruang bagi Serikat Pekerja/Serikat
              Buruh dalam memperjuangkan kepentingan anggotanya yang sedang mengalami proses PHK.



                                                           887
   883   884   885   886   887   888   889   890   891   892   893