Page 891 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 891

mengesahkan Rancangan Undang-Undang Omnibus Law tentang Cipta Kerja menjadi Undang-
              Undang.


              KSPI TETAP BAKAL MOGOK NASIONAL SELAMA TIGA HARI

              Beredar  selebaran  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  membatalkan  aksi  mogok
              nasional pada 6-8 Oktober 2020. Namun, Ketua Departemen Komunikasi dan Media KSPI Kahar
              S. Cahyono menegaskan, informasi tersebut tidak benar alias hoaks.
              "Dari semalam, beredar surat KSPI terkait dengan pembatalan aksi mogok nasional yang akan
              dilakukan pada tanggal 6, 7, 8 Oktober 2020. Kami sampaikan, bahwa surat tersebut adalah
              hoaks," kata Kahar dikonfirmasi, Selasa (6/10).

              Kahar menegaskan, sikap KSPI tidak berubah dan tetap akan menggelar aksi mogok nasional
              secara  serentak  di  berbagai  daerah.  Aksi  ini  dilakukan  sebagai  bentuk  protes  terhadap
              Pemerintah  bersama  DPR  RI  yang  mengesahkan  Rancangan  Undang-Undang  Omnibus  Law
              tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.

              "Sikap KSPI tidak berubah. Tetap melakukan mogok nasional, sebagai bentuk protes terhadap
              disahkannya Omnibus Law Cipta Kerja," tegas Kahar.

              Oleh  karena  itu,  KSPI mengecam  pihak-pihak  yang  sengaja  membuat selebaran  pembatalan
              mogok  nasional  tersebut.  Menurutnya,  hal  itu  tidak  lain  untuk  melemahkan  aksi  penolakan
              Omnibus Law.

              "Kami  juga  menghimbau  kepada  buruh  Indonesia  dan  elemen  masyarakat  yang  lain  untuk
              mengabaikan surat tersebut," tandas Kahar.

              Berbagai penokan disahkannya RUU Omnibus Law tentang Cipta Kerja menjadi UU disesalkan
              banyak  pihak.  Salah  satunya,  Direktur  Amnesty  International  Indonesia  Usman  Hamid  yang
              menilai, kurangnya komitmen Pemerintah Indonesia dan DPR RI untuk menegakkan hak asasi
              manusia.

              "Mereka yang menentang karena substansi Ciptaker dan prosedur penyusunan UU baru ini sama
              sekali tidak menjadi pertimbangan para pembuat kebijakan. Anggota dewan dan pemerintah,
              nampaknya lebih memilih untuk mendengar kelompok kecil yang diuntungkan oleh aturan ini.
              Sementara  hak  jutaan  pekerja  kini  terancam," kata  Direktur Eksekutif  Amnesty  International
              Indonesia Usman Hamid dalam keterangannya, Senin (5/10).

              Usman menuturkan, serikat pekerja dan kelompok masyarakat sipil seharusnya dilibatkan secara
              terus-menerus dalam pembahasan Undang-Undang ini. Karena para pekerja yang nantinya akan
              menanggung langsung dampak dari berlakunya Omnibus Law Cipta Kerja.

              ''Peristiwa  penting  di  rapat  paripurna  hari  ini  akan  memberikan  lebih  banyak  ruang  bagi
              perusahaan  dan  korporasi  untuk  mengeksploitasi  tenaga  kerja,  dan  akan  berujung  pada
              kurangnya  kepatuhan  pengusaha  terhadap  upah  minimum  menurut  undang-undang,"  sesal
              Usman.

              Menurut  Usman,  UU  Cipta  Kerja  tidak  lagi  mengharuskan  perusahaan  untuk  berkewajiban
              mengangkat pekerja kontrak menjadi pegawai tetap. Aturan seperti ini berpotensi menyebabkan
              perlakuan tidak adil bagi para pekerja, karena mereka akan terus-menerus menjadi pegawai
              tidak tetap. ''Kami mendesak anggota DPR untuk merevisi aturan-aturan bermasalah dalam UU
              Ciptaker. Hak asasi manusia harus menjadi prioritas di dalam setiap pengambilan keputusan,"
              tegas Usman. (  Editor : Dinarsa Kurniawan  Reporter : Muhammad Ridwan

                                                           890
   886   887   888   889   890   891   892   893   894   895   896