Page 49 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 FEBRUARI 2019
P. 49
seorang sopir taksi berusia setengah baya.
Sembari menangis, Diah menceritakan apa yang dialaminya. Si sopir baik hati itu
langsung mengantarnya ke KBRI Amman.
Berakhirlah hari-hari gelap selama 12 tahun. Hari-hari ketika perempuan 36 tahun
itu terputus hubungan dari keluarga di rumah. Dan, sama sekali tak mendapatkan
bayaran atas pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga.
***
Seperti juga para tenaga kerja Indonesia (TKI) lainnya, Diah memimpikan
kehidupan yang lebih baik dengan bekerja di luar negeri. Arab Saudi adalah negeri
yang ingin dituju.
Namun, bukannya ke Arab Saudi, PJTKI (pengerah jasa tenaga kerja Indonesia)
beralamat di Jakarta Selatan yang memberangkatkannya malah mengirim dia ke
Jordania. Dan, tanpa disadari ibu satu anak itu, dia masuk ke negeri yang beribu
kota di Amman tersebut tanpa kelengkapan dokumen imigrasi.
"Jadi, saya dari awal merasa dibuang. Karena keinginan saya waktu itu bekerja di
Saudi," terangnya kepada Jawa Pos Radar Malang Selasa lalu (19/2).
Namun, Diah mengaku tak tahu harus mengadu ke mana. Tak ada seorang pun
yang dia kenal di negeri baru tersebut. Karena itu, dia hanya pasrah dan bekerja
sesuai dengan keinginan sang majikan.
Hari-hari pertama semua seperti berjalan normal. Dia diperkenankan mengontak
keluarga yang berdomisili di kawasan Kota Lama, Malang, Jawa Timur.
Tapi, bulan madu itu hanya seumur jagung. "Mungkin hanya tiga kali saya boleh
Page 48 of 76.

