Page 50 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 FEBRUARI 2019
P. 50
menelepon. Setelah itu tidak boleh," katanya.
Dimulailah hari-hari gelap itu. Celakanya lagi, nomor telepon adiknya yang masih
disimpan ternyata tidak bisa dihubungi.
Bukan itu saja, tepat sebulan bekerja, gajinya ternyata tak dibayarkan. Sang
majikan juga sangat membatasi ruang geraknya.
Sepanjang bekerja di rumah majikan di Amman itu, tidak pernah sekali pun dia
mendapat hak libur. Waktunya otomatis lebih banyak dihabiskan di rumah.
Namun, Diah menampik informasi bahwa dirinya diperlakukan kejam secara fisik
oleh majikan. Termasuk informasi dirinya juga dibatasi dalam urusan mandi atau
penggunaan air bersih. "Tidak sampai dibatasi mandinya, hanya kalau keluar rumah
yang sangat dibatasi majikan saya," terang ibunda Eka Anggraneta itu.
Dalam masa-masa ketika dia seperti terputus dari dunia luar itu, yang paling
membuat hatinya hancur adalah rasa rindunya dengan keluarga. Termasuk anak
semata wayangnya, Eka, yang ditinggal bersama sang nenek, Prapti Utami, saat
usianya masih 3 tahun.
Keluarga Diah di Malang sebenarnya juga tak tinggal diam. Saat Diah tak pernah
lagi menelepon, mereka yang gantian menelepon balik. Tapi, selalu tak tersambung.
Berkali-kali dicoba, hasilnya sama.
Keluarga akhirnya mencoba jalur lain: paranormal. Setidaknya tiga paranormal
sudah ditemui. Semuanya mengatakan Diah masih hidup dan dalam kondisi sehat.
Itulah yang setidaknya melegakan keluarga.
Di Amman, Diah sebenarnya juga berkali-kali berencana atau berusaha melarikan
diri. Tapi, sulit sekali mendapatkan kesempatan. Sampai datang peluang di siang
Page 49 of 76.

