Page 105 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 105

"Oleh sebab itu, kami dari KSBI Kalbar menolak dengan kenaikan UMP Kalbar pada tahun 2022,"
              katanya.
              Dia menjelaskan upah minimum yang ditetapkan hanya naik sekitat 1,44 persen dan dengan
              kondisis saat ini, pihaknya sangat menyesalkan kenaikan UMP hanya sebesar itu.

              Ia  mengatakan,  peran  serikat  buruh  dalam  penetapan  UMP  saat  ini  telah  dilemahkan  oleh
              pemerintah pusat dengan adanya undang-undang Omnibus Law atau cipta kerja.

              "Kalau dulu kami bisa melakukan negosiasi, dan ada celah diupah sektoral, namun sekarang
              tidak bisa lagi, semua sudah menggunakan rumusan tingkat atas dan bawah, konsumtif dan
              sebagainya, dan diperparah dengan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok," ungkapnya.

              Sehingga,  menurut  dia,  kenaikan  upah  yang  hanya  sebesar  Rp34  ribu  tidak  relevan  dengan
              tingkat kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran saat ini.
              Menurut dia, pihaknya berharap penetapan UMP berdasarkan petumbuhan ekononomi dan inflasi
              nasional yang masih lebih layak dibandingkan dengan rumusan yang ada saat ini.

              ''Apalagi tahun 2021 tidak ada kenaikan karena pandemi COVID-19, dan kami berharap ada
              kenaikan di tahun 2022, karenakan sudah ada geliat ekonomi, oleh sebab itu kami dari KSBSI
              sepakat  menolak  UMP  yang  berdasarkan  PP  Nomor  36  tahun  2021  tentang  Pengupahan,''
              ujarnya.

              Dia  mendorong  Presiden  agar  segera  mengeluarkan  Perpu  (Peraturan  Pemerintah  Pengganti
              Undang - Undang) terkait ketenagakerjaan.













































                                                           104
   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110