Page 225 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 225

Ringkasan

              Serikat  Pekerja  di  Kabupaten  Sumedang  mengaku  kecewa  terkait  nilai  Upah  Minimum
              Kabupaten/Kota (UMK) untuk tahun 2022 tidak mengalami kenaikan dari UMK sebelumnya atau
              tahun 2021, yakni Rp 3.241.929,67. Mereka menilai penetapan UMK tahun ini bertolak belakang
              dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91.



              UMK 2022 TAK NAIK, BEGINI RESPONS BURUH SUMEDANG
              Serikat  Pekerja  di  Kabupaten  Sumedang  mengaku  kecewa  terkait  nilai  Upah  Minimum
              Kabupaten/Kota (UMK) untuk tahun 2022 tidak mengalami kenaikan dari UMK sebelumnya atau
              tahun 2021, yakni Rp 3.241.929,67. Mereka menilai penetapan UMK tahun ini bertolak belakang
              dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91.
              "Dengan keputusan gubernur yang kemarin malam itu, ya tidak hanya Sumedang tapi pekerja
              seluruh Jawa Barat juga mungkin berduka merasa kecewa atas keputusan yang telah ditetapkan
              oleh gubernur melalui surat keputusannya," ucap Guruh Hudyanto selaku Koordinator Aliansi
              Buruh Sumedang Menggugat (ABSM) saat dihubungi detikcom, Rabu (1/12/2021).

              Sebagaimana  diketahui  penetapan  UMK  telah  diputuskan  oleh  Gubernur  Jawa  Barat  Ridwan
              Kamil pada Selasa (30/11/2021). Keputusan itu dituangkan ke dalam Surat Keputusan Gubernur
              Jawa Barat Nomor: 561/Kep.732-Kesra/2021 Tentang upah Minimum Kabupaten/Kota di Daerah
              Provinsi Jawa Barat Tahun 2022.

              Terkait keputusan itu, lanjut Guruh, lantaran surat keputusan dikeluarkan oleh provinsi dalam
              hal  ini  gubernur  maka  upaya  litigasi  dan  non  litigasinya  pun  akan  dilakukan  oleh  perangkat
              organisasi serikat pekerja di tingkat provinsi.
              "Perangkat-perangkat organisasi serikat pekerja di tingkat Jawa Barat, Insya Allah dalam satu
              dua hari ke depan akan bertemu untuk menyikapi tindak lanjut dari penetapan UMK," paparnya.

              Ia menuturkan, upaya litigasi dan non litigasi perlu ditempuh lantaran penetapan UMK bertolak
              belakang  dengan  putusan  MK  Nomor  91/PUU-XVIII/2020  yang  menyatakan  bahwa  Undang-
              Undang  Nomor  11  Tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja  (UU  Cipta  Kerja)  adalah  inkonstitusional
              bersarat dan harus diperbaiki dengan tenggat waktu dua tahun.

              Sebelumnya, kata dia, penetapan nilai UMK di Kabupaten Sumedang ini telah terjadi perbedaan
              pandangan  antara  dewan  pengupahan  dan  Apindo.  Dewan  pengupahan  dari  unsur  serikat
              pekerja  sebelumnya  mengusulkan  kenaikan  sebesar  10  persen,  sementara  Apindo  selaku
              pengusaha tetap berpegang pada PP 36/2021 atau tidak ada kenaikan UMK.

              "Karena deadlock maka diserahkan kepada Bupati, disela-sela waktu ini, serikat pekerja sempat
              beraudiensi  dengan  bupati  kemudian  ketemulah  angka  realistis  yaitu  kenaikan  sebesar  3,27
              persen, itu ada dasarnya karena kami menghitung pertumbuhan ekonomi dan inflasi di Jawa
              Barat," paparnya.

              Namun, lanjut dia, usulan kenaikan 3,27 persen itu mentah setelah keluar intruksi dari Gubernur
              Jawa Barat kepada Bupati/Walikota terkait penyesuaian UMK 2022 tetap berpegang pada PP
              36/2021.

              Sementara untuk PP 36/2021 yang merupakan turunan dari UU Cipta Kerja, lanjut dia, antara
              serikat  pekerja  dan  pemerintah  kaitannya  dengan  putusan  MK  Nomor  91/PUU-XVIII/2020,
              terdapat perbedaan pandangan.


                                                           224
   220   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230