Page 243 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 243

KADIN JATIM SEBUT PENGUSAHA KEBERATAN KENAIKAN UMK 38
              KABUPATEN/KOTA DI JATIM
              Para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur merasa
              keberatan dengan penetapan kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) 2022 pada 38
              kabupaten/kota di Jatim rata-rata sebesar Rp 75.000 atau 1,75%. Ketua Umum KadinJawa Timur
              Adik  Dwi  Putranto  menyatakan  keputusan  kenaikan  UMK  2022  itu  sangat  memberatkan
              pengusaha di tengah situasi yang masih pandemi.

              Keberatan tersebut juga merujuk pada Peraturan Pemerintah nomor 36 tahun 2021 tentang
              pengupahan. Dalam PP tersebut dijelaskan adanya ketentuan tidak ada kenaikan upah untuk 5
              kabupaten  kota,  yaitu  kota  Surabaya,  kabupaten  Sidoarjo,  kabupaten  Gresik,  kabupaten
              Pasuruan dan kabupaten Mojokerto.

              Upah  di  lima  kabupaten  kota  tersebut  dianggap  sudah  melampaui  batas  maksimal  sehingga
              ketika ada kenaikan upah kembali, akan sangat memberatkan pengusaha dan akan menimbulkan
              disparitas  upah  yang  cukup  dalam  dengan  kota  lain,  misalnya  dengan upah  di daerah  Jawa
              Tengah.

              "Kita ambil contoh upah di Surabaya dan Solo. Tahun ini UMK Surabaya sebesar Rp 4.300.479,19
              dan di tahun 2022 menjadi Rp 4.375.479,19, naik Rp 75.000. Sementara UMK Solo tahun 2021
              sebesar Rp 2.013.810 dan di tahun 2022 menjadi Rp 2.034.810, naik sebesar Rp 21.000. Artinya,
              disparitas upah antara Surabaya dengan solo mencapai lebih dari Rp 2,3 juta," kata Adik di
              Surabaya, Rabu (1/12/2021).

              Sementara  industri  di  Jateng  memiliki  banyak  kesamaan  dengan  industri  yang  ada di  Jatim,
              termasuk pasarnya juga sama. Sehingga hal ini akan berpengaruh pada daya saing produk yang
              dihasilkan.

              "Untuk itu, kami berharap tahun depan harus ada kepastian hukum. Jika sudah ditetapkan tidak
              ada  kenaikan  ya  harusnya  tidak  naik.  Kalau  di  tahun  depan  masih  tidak  ada  kepastian,  ya
              kemungkinan  akan  ada  banyak  industri  di  Jatim  yang  merelokasi  perusahaannya,  geser  ke
              daerah yang UMK-nya relatif rendah dan bisa ditoleransi. Sekarang kan akses tol sudah banyak,"
              tegas Adik.

              Lebih lanjut ia mengatakan, sebenarnya upah tinggi akan berdampak negatif terhadap upaya
              pemerintah dalam melakukan percepatan pertumbuhan ekonomi, baik daerah maupun nasional.
              Lapangan kerja menjadi terbatas, karena pasti akan ada upaya efisiensi atau rasionalisasi yang
              dilakukan pengusaha karena tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut. Selain itu upah yang
              tinggi  juga  berdampak  terjadinya  substitusi  tenaga  kerja  ke  mesin,  memicu  terjadinya
              pemutusan hubungan kerja (PHK).

              "Di  sisi  lain,  pengusaha  yang  akan  membuka  lowongan  pekerjaan  juga  berfikir  lagi  dengan
              besarnya kenaikan upah yang dipaksakan tersebut. Sehingga akan terjadi perlambatan perluasan
              kesempatan kerja baru," ujar Adik.
              Selain itu, kebijakan tersebut juga akan berpengaruh pada iklim investasi di sebuah daerah.
              Kebijakan  kenaikan  upah  yang  melebihi  kemampuan  investor  akan  mendorong  terjadinya
              relokasi perusahaan, dari lokasi dari lokasi yang memiliki nilai upah minimum tinggi ke yang lebih
              rendah, hingga mendorong tutupnya perusahaan.
              Selain itu upah yang terlalu tinggi juga bisa berpengaruh pada indeks daya saing Indonesia dan
              juga kepastian hukum di Indonesia, sehingga mempengaruhi kepercayaan investor dan bisnis.

              Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id).

                                                           242
   238   239   240   241   242   243   244   245   246   247   248