Page 487 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 487

Para buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Banyuwangi
              menyebut, kenaikan tersebut jauh dari kata layak.
              "Bagi  kami  kenaikan  kali  ini  sungguh  jauh  dari  kata  layak,  dari  perikemanusiaan  apalagi
              kesejahteraan sangat jauh dari kata sejahtera," ujar Ketua FSPMI Banyuwangi, Khoirul Anwari
              Arif, Rabu (1/12/2021).

              Kaum  buruh  sangat  kecewa  dengan  putusan  UMK  tahun  ini.  Pasalnya,  pemerintah  masih
              menggunakan PP 36 Tahun 2021 dalam menentukan upah. PP 36 Tahun 2021 merupakan aturan
              turunan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              "Padahal UU 11 Tahun 2020 sudah ditangguhkah oleh MK, bahwa UU 11 Tahun 2020 ini di
              klaster ketenagakerjaan itu cacat formil, harus diperbaiki dalam jangka waktu dua tahun," kata
              Anwar.

              "Amar  putusannya  juga  sudah  jelas  di  poin  1-9,  tapi  masih  saja  pemerintah  menggunakan
              undang-undang ini untuk dasar penetapan upah," imbuhnya.

              Pihaknya sangat menyayangkan formula penetapan upah di Banyuwangi masih menggunakan
              PP 36 Tahun 2021. Padahal di Jawa Timur ada lima kabupaten yang tidak menggunakan PP
              tersebut. Diantaranya Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, Gresik.

              "Apa bedanya sama-sama di Jawa Timur loh ini, di ring 1 (lima kabupaten) itu naik 1,74 persen,
              di luar kabupaten itu tidak ada yang naik sampai 1 persen, lainnya adalah nol koma, dimana
              keadilannya," ungkapnya kecewa.

              Menurut Anwar, jika tiap tahun UMK naik tidak sampai 1 persen dapat disparitas upah di Jatim
              akan semakin melebar dari daerah lain sama ring 1.

              "Di kabupaten selain ring 1 kenapa hanya nol koma, kan sama-sama di Jawa Timur, seharusnya
              kalau di ring 1 saja 1,74 disama ratakan lah," pinta mereka.

              Dikarenakan UMK tahun 2022 telah ditetapkan Gubernur Jatim, pihaknya hanya bisa pasrah.
              Namun  untuk  tahun  2023,  mereka  meminta dalam  menentukan  upah, pemerintah  tidak  lagi
              memakai PP 36 tahun 2021.

              "Tetapi  memakai  PP  78  Tahun  2015  tentang  pengupahan.  Karena  UU  Omnibus  Law  ini
              ditangguhkan oleh MK. Kita akan menurunkan massa yang banyak di tahun 2023 jika penetapan
              upahnya masih menggunakan PP 36 Tahun 2021," ancam mereka. (*)























                                                           486
   482   483   484   485   486   487   488   489   490   491   492