Page 492 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 492
Kepala Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan Kota Banjar Asep Tatang Iskandar mengatakan
perhitungan UMK didasarkan kepada rumus yang telah diatur dalam PP Nomor 36 tahun 2021.
"Perhitungan kan menggunakan rumus. Ketika indikator-indikator perhitungannya rendah, tentu
saja hasilnya pun rendah. Jadi tak mungkin UMK tinggi, kalau indikator yang jadi bahan
perhitungannya rendah," kata Asep Tatang, Rabu (1/12/2021).
Asep memaparkan ada enam indikator yang menjadi bahan perhitungan, data merupakan hasil
dari BPS yang diketahui dari Kementerian Tenaga Kerja. Hal pertama yaitu rata-rata konsumsi
per kapita masyarakat Kota Banjar berada di angka Rp 1.088.977. Indikator ini menjadi poin
yang cukup vital sebagai gambaran seberapa banyak rata-rata warga Banjar mengeluarkan uang
untuk kebutuhan konsumtifnya selama satu bulan.
Hal kedua yakni rata-rata jumlah anggota rumah tangga (ART) sebanyak 3,21. Ketiga, rata-rata
(anggota rumah tangga) yang bekerja di Banjar sebanyak 1,31.
Indikator keempat adalah UMK tahun 2021 sebesar Rp 1.831.884,83. Kemudian indikator kelima
adalah pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat sebesar 1,51 persen dan yang terakhir adalah inflasi
di provinsi Jawa Barat sebesar 1,76 persen.
"Nah semua indikator itu kan langsung dihitung berdasarkan rumus. Pertama muncul dulu upah
batas atas sebesar Rp 2.668.409,29. Kemudian dihitung upah batas bawah sebesar Rp
1.334.204,65," ucap Asep.
Setelah itu, barulah dihitung upah minimum yang juga menggunakan rumus yang sudah
ditentukan. Sehingga pada akhirnya muncul angka UMK Kota Banjar tahun 2022 sebesar Rp
1.852.099,52 "Tentu pekerja inginnya naik tinggi, sementara pemberi kerja memiliki keinginan
yang berkebalikan. Sehingga tentu di sinilah peran pemerintah berusaha menengahi dari
benturan dua kepentingan tersebut," ujar Asep.
491

