Page 668 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 668

UMK 12 KABUPATEN/KOTA DITETAPKAN, DUMAI TERTINGGI

              Gubernur Riau (Gubri) H Syamsuar telah menetapkan upah minimum kabupaten/ kota (UMK) di
              Provinsi Riau 2022. Penetapan UMK 12 kabupaten/ kota tersebut berdasarkan Surat Keputusan
              (SK)  Nomor:  Kpts.1272/  XI/2021  tentang  UMK  di  Provinsi  Riau  Tahun  2022,  tertanggal  30
              November 2021.

              Kepala  Dinas  Tenaga  Kerja  dan  Transmigrasi  (Disnakertrans)  Riau  H  Jonli  mengatakan,
              penetapan  UMK  di  Riau  tersebut  sesuai  dengan  formula  Surat  Edaran  (SE)  Menteri
              Ketenagakerjaan  (Menaker)  dan  Peraturan  Pemerintah  (PP)  Nomor  36  Tahun  2021  tentang
              Pengupahan.

              "Pak Gubernur sudah meneken SK penetapan UMK di Provinsi Riau tahun 2022 sesuai aturan
              Menaker.  Penetapan  UMK  itu  juga  setelah  mendapat  rekomendasi  dari  Dewan  Pengupahan
              Provinsi Riau," katanya.

              Jonli  mengakui,  memang  dalam  penetapan  itu  sempat  terjadi  perdebatan  dengan  dewan
              pengupahan, dan sebagian besar serikat pekerja menerima dengan catatan agar perusahaan
              menerapkan struktur skala upah.

              "Dengan  perusahaan  menerapkan  struktur  upah,  maka  ada  tambahan lain  yang  mendukung
              kesejahteraan pekerja," ujarnya.

              Dijelaskan  Jonli,  adapun  besaran  UMK  di  Riau  2021  yakni  Kota  Pekanbaru  Rp3.049.675,79,
              Dumai Rp3.414.160,86, Kabupaten Rokan Hulu Rp2.986.863,49, Indragiri Hulu Rp3.097.706,00,
              Indragiri Hilir Rp2.984.696,63.

              "Kemudian Kabupaten Kampar Rp3.047.470,58, Bengkalis 3.350.646,31, Siak Rp3.114.237,83,
              Pelalawan Rp3.030.598,54, Kuansing Rp3.111.788,95, Kepulauan Meranti Rp2.985.000,00 dan
              Rokan Hilir Rp3.009.416,38," paparnya.

              Dengan  sudah  ditetapkannya  UMK  tersebut,  ujar  Jonli,  maka  pihak  perusahaan  wajib  untuk
              menerapkan  UMK  tersebut.  Jika  tidak,  maka  pimpinan  perusahaan  tersebut  bisa  dikenakan
              sanksi pidana.

              "Kalau  perusahaan  tidak  menerapkan  pengupahan  sesuai  UMK,  maka  bisa  dikenakan  sanksi
              pidana. Itu sudah jelas ada aturannya," tegas Jonli.

              Karena itu, pihaknya juga sewaktu-waktu bisa saja membuka posko pengaduan UMK tersebut.
              Namun  sebelum  melakukan  itu,  pihaknya  masih  menunggu  arahan  dari  Kementerian
              Ketenagakerjaan RI.

              "Kalau ada perintah membuat posko pengaduan, kami siap. Seperti tahun-tahun sebelumnya
              juga ada dibuat posko pengaduan UMK ini," ujarnya.

              (sol)














                                                           667
   663   664   665   666   667   668   669   670   671   672   673