Page 673 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 673

Ringkasan

              Gubernur Jabar Ridwan Kamil telah menetapkan besaran nilai Upah Minimum Kota/Kabupaten
              (UMK)  di  Jabar,  Selasa  (30/11/2021)  malam.  Penetapan  UMK  tersebut  dituangkan  dalam
              Keputusan Gubernur Jabar No 561/ Kep.732-Kesra/2021 tertanggal 30 November 2021 tentang
              Upah Minimum Kabupaten/Kota di Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2022. Penetapan UMK di
              Jabar tersebut berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 36 tahun 2021 tentang Pengupahan
              yang merupakan aturan turunan dari UU 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang sebelumnya
              diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), bertentangan dengan UUD atau inkonstitusional.
              Dengan berdasar pada PP 36/2021, rekomendasi dari bupati/wali kota tentang besaran UMK di
              daerahnya masing-masing tidak menjadi patokan utama seperti penetapan UMK pada tahun-
              tahun sebelumnya, saat masih berpatokan pada PP No 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.
              Karenanya,  dari  UMK  27  kabupaten/kota  di  Jabar  yang  tertera  dalam  keputusan  gubernur
              tersebut, tak ada yang kenaikannya sesuai dengan keinginan buruh.



              UMK 2022 9 KABUPATEN DI JABAR TIDAK NAIK, INI DAFTAR LENGKAPNYA

              JuaraNews,  Bandung  -  Gubernur  Jabar  Ridwan  Kamil  telah  menetapkan  besaran  nilai  Upah
              Minimum Kota/Kabupaten (UMK) di Jabar, Selasa (30/11/2021) malam.
              Penetapan  UMK  tersebut  dituangkan  dalam  Keputusan  Gubernur  Jabar  No  561/  Kep.732-
              Kesra/2021 tertanggal 30 November 2021 tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota di Daerah
              Provinsi Jawa Barat Tahun 2022.

              Penetapan UMK di Jabar tersebut berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 36 tahun 2021
              tentang Pengupahan yang merupakan aturan turunan dari UU 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja
              yang sebelumnya diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), bertentangan dengan UUD atau
              inkonstitusional.
              Dengan berdasar pada PP 36/2021, rekomendasi dari bupati/wali kota tentang besaran UMK di
              daerahnya masing-masing tidak menjadi patokan utama seperti penetapan UMK pada tahun-
              tahun sebelumnya, saat masih berpatokan pada PP No 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.
              Karenanya,  dari  UMK  27  kabupaten/kota  di  Jabar  yang  tertera  dalam  keputusan  gubernur
              tersebut, tak ada yang kenaikannya sesuai dengan keinginan buruh.

              Kota Cimahi misalnya, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Cimahi Ngatiyana memberikan kabar
              yang cukup menggembirakan bagi para buruh di Kota Cimahi. Sebab, ia merekomendasikan
              besaran Upah Minimum Kota (UMK) Cimahi 2022 sebesar 8,5 persen.

              "Rekomendasikan UMK 2022 naik sebesar 8,5 persen atau sekitar Rp200 ribu dari UMK tahun
              ini," terang Ngatiyana saat ditemui di Cimahi Utara, Jumat (26/11/2021).

              UMK tahun 2021 di Kota Cimahi sendiri sebesar Rp 3.241.919. Jika dikalkulasikan, kenaikan 8,5
              persen nominalnya Rp 275.563,115 sehingga nilai rekomendasi UMK tahun 2022 di Kota Cimahi
              menjadi Rp 3.517.492,955. Namun dalam keputusan itu, UMK 2021 Kota Cimahi hanya naik
              sangat tipis menjadi Rp 3.272.668,50.

              Selain Cimahi, Kabupaten Bandung juga menyampaikan rekomendasi UMK 2022 mereka naik 10
              persen dari tahun sebelumnya. Bupati Bandung, Dadang Supriatna sendiri dalam unggahan akun
              instagramnya  @kang.dadangsupriatna  telah  menyampaikan  hal  serupa.  Ia  sudah
              menandatangani rekomendasi kenaikan UMK tahun 2022 sebesar 10 persen.




                                                           672
   668   669   670   671   672   673   674   675   676   677   678