Page 729 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 729

Kenaikan UMP tahun 2022 yang hanya sebesar 1,09 persen ini dianggap sangat tidak layak dan
              terlampau rendah.
              Saat ini kondisi ekonomi masyarakat sedang terpuruk karena dihantam pandemi. Buruh menjadi
              salah  satu  kelompok  rentan  dalam  kondisi  ini.  Upah  minimum  seharusnya  menjadi  jaring
              pengaman sosial agar mereka tidak terpuruk lebih dalam lagi.

              Kenaikan UMP ini dianggap terendah sepanjang sejarah. Sebagai contoh, kenaikan UMP DKI
              Jakarta dari tahun 1999 hingga 2021 rata-rata antara belasan hingga puluhan persen. Bahkan
              di tahun 2000 kenaikannya mencapai hampir 50 persen.

              Kenaikan UMP terendah di DKI hanya terjadi pada tahun 2010 yakni sekitar 4 persen. Bahkan
              tahun 2021 saat pandemi masih menjadi-jadi, kenaikan UMP di DKI Jakarta masih di angka 3,27
              persen.

              UU Cipta Kerja dituding menjadi biang kerok terkait kenaikan UMP yang dianggap sangat tidak
              layak ini. Karena formulasi penghitungan UMP tahun 2022 ini sudah menggunakan PP No 36
              Tahun 2021 sebagai aturan turunan dari UU Cipta Kerja.

              Hasilnya, secara rata-rata nasional, kenaikan UMP sama sekali tidak signifikan. Ini terjadi karena
              penghitungan UMP saat ini tak lagi memasukkan unsur Kebutuhan Hidup Layak (KHL) seperti
              sebelumnya.

              Unsur KHL dalam penghitungan UMP di PP 78/2015 tentang Pengupahan sudah tidak digunakan
              lagi.  Karena,  PP  36/2021  yang  merupakan  turunan  UU  Cipta  Kerja  hanya  fokus
              mempertimbangkan  variabel  di  luar  kebutuhan  pekerja  seperti  kondisi  ekonomi  dan
              ketenagakerjaan seperti tingkat penyerapan tenaga kerja dan median upah.

              Standar KHL dihapus dari perhitungan UMP dan seluruh komponen penghitungan menggunakan
              indikator makro pertumbuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat. PP Nomor 36 Tahun 2021 ini
              juga tidak lagi memberi ruang perundingan secara bipartit.

              Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta
              Kerja inkonstitusional bersyarat.

              MK  memerintahkan  agar  pemerintah  dan  DPR  memperbaiki  beleid  yang  sarat  polemik  dan
              kontroversi ini.

              Sementara, formulasi penghitungan kenaikan UMP 2022 menggunakan PP Nomor 36 Tahun 2021
              tentang Pengupahan yang merupakan turunan dari UU Cipta Kerja.

              Pertanyaannya, apakah sebuah kebijakan bisa diterapkan jika UU yang dijadikan landasan sudah
              dibatalkan? Saksikan pembahasannya dalam talkshow Satu Meja The Forum, Rabu (1/12/2021),
              yang disiarkan langsung di Kompas TV mulai pukul 20.00 WIB.

















                                                           728
   724   725   726   727   728   729   730   731   732   733   734