Page 37 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 01 NOVEMBER 2019
P. 37

Title         TAK SESUAI DENGAN KESEJAHTERAAN, BURUH TOLAK UMP 2020
                Media Name    pikiran-rakyat.com
                Pub. Date     31 Oktober 2019
                              https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2019/10/31/tak-sesuai-dengan-ke
                Page/URL
                              sejahteraan-buruh-tolak-ump-2020
                Media Type    Pers Online
                Sentiment     Negative











               Konfenderasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPI) tetap menolak PP
               No.78/2015 menjadi dasar penetapan UMP 2020. KSPI bersikeras agar pemerintah
               tetap menerapkan UMP tahun depan sesuai dengan nilai Kebutuhan Hidup Layak
               (KHL).

               Sekjen Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) DIY, Irsyad Ade
               Irawan di Yogyakarta, Rabu 30 Oktober 2019 mengatakan sejak 2016 UMP
               ditetapkan berdasarkan PP 78/2015 tentang Pengupahan. "Namun kenyataannya PP
               tersebut bukan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh," katanya.

               Irsyad mengatakan, berdasarkan survei kesejahteraah pekerja/buruh yang kami
               lakukan, dilihat dari Kebutuhan Hidup Layak dan perolehan upah, pekerja/buruh di
               masing-masing kabupaten/kota di DIY rata-rata mengalami defisit ekonomi sebesar
               Rp 925.933. Rinciannya, berdasarkan Kabupaten/Kota Hasil survei KHL 2019 pekerja
               di Kota Jogja mengalami defisit -Rp947,726, Sleman -Rp944,010, Bantul -
               Rp910,061, Kulonprogo -Rp896,879, dan Gunung Kidul -Rp930,992.

               Hasil survei KHL per September 2019 yang dilakukan oleh KSPI adalah, Kota Jogja
               Rp2.794.126 dengan upah defisit Rp1,846,400, Sleman Rp2.645.010 dengan upah
               defisit Rp1,701,000, Bantul Rp2.559.861 dengan upah defisit Rp1,649,800,
               Kulonprogo Rp2.510.079 dengan upah defisit Rp1,613,200, dan Gunung Kidul
               Rp2.501.992 dengan upah defisit Rp1,571,000.

               Sulit menutup desifit

               Dengan tidak adanya pendapatan tambahan pekerja/buruh DIY selama ini, kata
               Irsyad, pekerja/buruh DIY semakin sulit menutup angka defisit ekonomi tersebut.
               Padahal berdasarkan data statistik dari BPS pertumbuhan ekonomi DIY telah
               didorong oleh beberapa sektor unggulan daerah yang cukup stabil dalam beberapa
               tahun terakhir. Di antaranya adalah sektor industri pengolahan, konstruksi, dan
               sektor penyediaan akomodasi dan makan minum.

               Berdasarkan data BPS pula, tujuh sektor industri yang terdiri dari Industri
               Pengolahan Makanan dan Minuman, Industri Pengolahan Tembakau, Tekstil,



                                                       Page 36 of 170.
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42