Page 343 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 DESEMBER 2021
P. 343

PP 36/2021 menggunakan formula baru dengan Variabel paritas daya beli, tingkat penyerapan
              tenaga kerja, median upah, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi dari daerah yang bersangkutan.
              PP 36/2021 ini juga 'memperkenalkan formula untuk menghitung batas atas, sehingga upah
              minimum  di  sebuah  daerah  tidak  naik  jika  besarannya  melebihi  batas  atas.  Variabel  yang
              digunakan  untuk  menghitung  batas  atas  adalah  rata-rata  konsumsi  per  kapita,  rata-rata
              banyaknya anggota rumah tangga, serta rata-rata banyaknya anggota rumah tanga yang bekerja
              pada setiap rumah tangga. Dan perubahan lainnya adalah ada sanksi bagi kepala daerah yang
              tidak menaati PP 36/32021.

              Kecilnya  kenaikan  upah  'minimum  ini  sudah  diprediksi,  bahkan  sejak  tahun  2015  ketika
              Pemerintah  menerbitkan  PP  78/  2015.  Sejak  itu,  upah  minimum  ditetapkan  dengan  formula
              matematika,  bukan  dengan  perundingan  di  dewan  pengupahan  daerah  seperti  sebelumnya.
              Tahun ini, berdasarkan UU 11/2020 Tentang Cipta Kerja, pemerintah mengatur cara penetapan
              upah minimum dengan PP 36/2021 yang akan berlaku untuk tahun 2022.

              Untuk merespons keciInya kenaikan upah minimum, serikat pekerja/buruh memberikan tekanan
              kepada  bupati/wali  kota  untuk  merekomendasikan  besaran  upah  minimum  yang  lebih  besar
              kepada  gubernur.  Tetapi  rekomendasi  itu  ditolak  dan  gubernur  tetap  menggunakan  formula
              dalam PP 36/2021 untuk menetapkan UMP dan UMK.

              Upah  minimum  dapat  dihitung  dengan  formula  matematika  dengan  variabel  ekonomi
              sebagaimana  yang  kita  gunakan  sekarang  dan  bisa  juga  dirundingkan,  seperti  yang  dipakai
              sebelum tahun 2015. Beberapa literatur memberikan kelebihan dan kekurangan dari kedua cara
              tersebut.

              Menurut Dickens (2015) model perundingan memberikan fleksibilitas dan ruang dialog antara
              pekerja dengan pengusaha, tetapi prosesnya lama dan besarannya sulit diprediksi, apalagi jika
              ada intervensi politik. Sementara itu, model formula memberikan transparansi dan kepastian
              dalam proses dan ketepatan waktu, tetapi Kurang fleksibel dalam merespons keadaan pasar
              tenaga kerja yang dinamis.
              Selain itu, sering terjadi formula yang ditetapkan tidak dapat memasukkan semua faktor ekonomi
              dan ketenagakerjaan yang sangat kompleks (ILO, 2017). Kita perlu mencari model yang sesuai
              kemampuan  institust  yang  dimiliki  oleh  suatu  negara,  kemampuan  badan  statistik,  dan
              kemampuan para pemangku kepentingan (ILO, 2017) untuk mencapai tujuan kebijakan upah
              minimum,  Dalam  Konteks  Indonesia,  Nugroho  (2021)  menemukan  bahwa  model  formula
              matematika memberikan biaya transaksi ex-ante lebih rendah dibandingkan model perundingan,
              tetapi dapat meningkatkan risiko biaya expost. Penelitian tersebut menggunakan transaction cost
              economics  (ekonomi  biaya  transaksi)  dengan  metode  Delphi  untuk  mendapatkan  konsensus
              pakar yang menjadi narasumber penelitian.

              Pakar dalam penelitian tersebut sepakat bahwa penghapusan perundingan, Penggunaan data
              Badan Pusat Statistik (BPS), dan penghapusan peran kepala daerah dalam menetapkan besaran
              upah  minimum  meningkatkan  efisiensi  waktu  dan  efisiensi  koordinasi.  Tetapi,  pakar  tidak
              mencapai konsensus dalam menilai risiko perselisihan hubungan industrial yang muncul karena
              penerapan  PP  36/2021.  Sebagian  pakar  menilai  penggunaan  formula  menurunkan  risiko
              perselisihan,  sebagian  lain  berpendapat  risiko  perselisihan  naik  karena  upah  minimum  di
              beberapa daerah tidak naik, Menyimak berita beberapa hari terakhit, tampaknya perselisihan
              masin akan terjadi sampai beberapa waktu ke depan karena pekerja/buruh merasa dirugikan
              dengan  kebijakan  upah  minimum  yang  berlaku  saat  ini.  Secara  umum  hubungan  industrial
              memang sedang tidak baik. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya unjuk rasa dan gugatan pada PP
              78/ 2015 dan dilanjutkan unjuk rasa dan gugatan kepada UU 11/2020 tentang Cipta Kerja.



                                                           342
   338   339   340   341   342   343   344   345   346   347   348