Page 56 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 JULI 2019
P. 56
Ia mengatakan, dari 80 pegawai migran yang bermasalah tersebut sebanyak 70
persen berasal dari Cianjur, sisanya dari Sukabumi, Kabupaten Bandung Barat,
Garut, dan Purwakarta.
"Kami berusaha tangani jika mengadu ke sini," katanya.
Menurutnya, FPMI Cianjur memulangkan TKI yang bermasalah secara mandiri. Mulai
dari negosiasi sampai dengan penjemputan.
"Sebagian memang berangkat ilegal, sebagian resmi, sudah terlalu lama
menunggu," ujarnya.
Ia mengatakan, 70 persen pegawai migran yang bermasalah tersebut berada di
kawasan Timur Tengah yang sudah dimoratorium.
"Kasus kekerasan yang kami tangani sempat ada yang disetrika, patah kaki mau
diperkosa majikan loncat patah kakinya," kata Dhani.
Ia mengatakan, setelah memulangkan PMI bermasalah pihaknya akan melakukan
pembinaan demi berkurangnya tindak pidana TPPO.
"Arah pembinaannya kami akan lebih kepada kesejahteraan, jangan sampai terjerat
berangkat menjadi PMI ilegal, masih banyak yang berangkat secara ilegal ke Timur
Tengah, kami adakan sosial kontrol untuk perlindungan migran bekerja sama
dengan Disnakertrans," katanya.
Ia mengatakan kebanyakan alasan warga berangkat menjadi PMI ilegal karena
terbentur masalah ekonomi hingga menempuh jalan pintas.
Nasib Entin Ia mengatakan, baru-baru ini memulangkan pegawai migran atas nama
Entin Tina (38) asal Kampung Pasirputih RT 03/02, Desa Margaluyu, Kecamatan
Campaka.
Entin merupakan TKI yang bekerja di Yordania dan tidak bisa pulang karena ditahan
sang majikan hingga 10 tahun.
"Jadi, sebelumnya keluarga Entin ini datang ke kantor FPMI minta tolong bahwa
sodari Entin ini mau pulang tapi ditahan oleh majikannya di Yordania," kata Dhani.
Pihaknya berupaya menghubungi konsulat di Yordania, akhirnya Entin pun bisa
pulang dan kembali tinggal bersama keluarganya di Campaka.
Pihaknya sempat kesulitan melacak Entin katena PPTKIS yang
memberangkatkannya sudah tutup.
"Meskipun demikian, kami terus berupaya berkoordinasi dengan KBRI Yordania dan
Page 55 of 62.

