Page 183 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 183

Ringkasan

              Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menolak
              penetapan  Upah  Minimum  Provinsi  atau  UMP  2022  yang  telah  ditetapkan,  pada  Rabu
              (17/11/2021)  pagi.  Walaupun  mengalami  kenaikan  1,08  persen  atau  Rp  34.000,  UMP  2022
              tersebut dinilai tidak sebanding lurus dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi di Babel yakni
              6,11 persen.



              SPSI BABEL TOLAK PENETAPAN UMP 2022

              Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menolak
              penetapan  Upah  Minimum  Provinsi  atau  UMP  2022  yang  telah  ditetapkan,  pada  Rabu
              (17/11/2021)  pagi.  Walaupun  mengalami  kenaikan  1,08  persen  atau  Rp  34.000,  UMP  2022
              tersebut dinilai tidak sebanding lurus dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi di Babel yakni
              6,11 persen.

              Ketua SPSI Babel Darusman menyebut, idealnya jika mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP)
              Nomor  78  tahun  2015  tentang  pengupahan  nominal  dari  kenaikan  pertumbuhan  ekonomi
              tersebut adalah sekitar Rp 200.000.

              "Namun  disini  penentuan  itu  mengacu  pada  formula  baru  yakni  pada  amanat  Peraturan
              Pemerintah (PP) Nomor 36 tahun 2021 tentang Pengupahan yang menjadi turunan dari Undang-
              Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Ciptaker) atau Omnibus Law," jelas
              Darusman kepada RRI.co.id, Rabu (17/11/2021).

              Ia  menilai,  PP  36/2021  tidak  dapat  dijadikan  instrumen  penghitung  penetapan  UMP  2022.
              Alasannya,  objek  hukum  yang  ada  pada  UU  itu  belum  memiliki  kekuatan  hukum  tetap  atau
              inkrah.

              "SPSI secara nasional menolak PP 36 karena omnibus law masih proses yudisial review, jadi
              mereka menolak untuk tidak diberlakukan formula baru, jadi tetap mengacu pada PP 78 karena
              (omnibus law) masih dalam perkara gugatan formil dan materil di pengadilan MA," tegasnya.

              Menurutnya, setinggi apapun pertumbuhan ekonomi di Babel jika perhitungan dilakukan formula
              baru dengan delapan variable UU Ciptaker nominalnya pasti akan kecil.

              "Oleh karena itulah, tadinya kita berharap ada regulasi yang mengatur bahwa Gubernur bisa
              menentukan  melalui  kebijakannya,  artinya  harapan  kita  berdasarkan  kebijakan  yang  sesuai
              dengan kondisi pertumbuhan di Babel yang cukup bagus tersebut," ujarnya.

              Dikatakannya, UU turunan Ciptaker tersebut tidak memberi ruang bagi gubernur untuk membuat
              kebijakan, dan harus patuh terhadap ketentuan yang sudah dibuat.

              "Jadi kita pun tidak bisa menyalahkan beliau, karena sebenarnya beliaupun punya perhatian
              serius terkait upah ini, tapi apa daya karena tidak ada ruang untuk beliau memberikan kebijakan,
              ya kita intinya menolak," ungkapnya.

              Atas dasar itu, karena organisasi SPSI secara terpusat menolak, otomatis SPSI Bangka Belitung
              juga  menolak,  artinya  SPSI  Babel  tidak  ikut  menandatangani  persetujuan  tentang  dewan
              pengupah yang belum ada ataupun yang ada di Bangka Belitung.

              "Jadi  kami  SPSI  tidak  menyetujui,  tidak  menyepakati  dan  tidak  ikut  menandatangani,  tapi
              mestipun kami tidak ikut, hal ini tetap akan berlaku, yang jelas kami tidak ikut andil didalam
              melegitimasi PP 36 itu, karena apa, secara organisasi menolak," ungkapnya.

                                                           182
   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188