Page 461 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 461

negative - Said Iqbal (Presiden KSPI) Kita menolak formula kenaikan upah minimum 2022 versi
              Menaker dan rencana mogok nasional 2 juta buruh dengan cara stop produksi sesuai konstitusi
              untuk menolak kenaikan upah minimum 2022 versi Menaker tersebut



              Ringkasan

              Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) telah melakukan perhitungan besaran Upah Minimum
              Provinsi  (UMP)  2022.  Kenaikan  UMP  2022  rata-rata  hanya  1,09  persen.  Angka  ini  jauh  dari
              tuntutan asosiasi buruh yang meminta kenaikan 5-10 persen. Kenaikan 1,09 persen itu adalah
              angka rata-rata semua provinsi, buk an berarti setiap provinsi naik 1,09 persen. Adapun UMP
              akan ditentukan oleh gubernur tiap provinsi.


              UMP 2022 NAIK 1,09 PERSEN

              Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) telah melakukan perhitungan besaran Upah Minimum
              Provinsi  (UMP)  2022.  Kenaikan  UMP  2022  rata-rata  hanya  1,09  persen.  Angka  ini  jauh  dari
              tuntutan asosiasi buruh yang meminta kenaikan 5-10 persen.

              Kenaikan 1,09 persen itu adalah angka rata-rata semua provinsi, buk an berarti setiap provinsi
              naik 1,09 persen. Adapun UMP akan ditentukan oleh gubernur tiap provinsi.

              Para  gubernur,  sudah  harus  menetapkan  UMP  paling  lambat  pada  21  November  2021.
              Sedangkan penetapan Upah Minimum Kabupaten/ Kota (UMK) paling lambat adalah tanggal 30
              November 2021.

              "Kita tunggu dari Gubernur untuk penetapannya," ujar Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah
              melalui konferensi pers terkait Upah Minimum 2022 yang disiarkan live melalui kanal YouTube
              Kementerian Ketenagakerjaan RI, Selasa (16/11).
              Ida  menambahkan,  terdapat  suatu  metode  yang  secara  internasional  di  gunakan  untuk
              mengukur  tinggi  rendahnya  suatu  upah  minimum  di  suatu  wilayah,  yaitu  dengan
              membandingkan besaran upah minimum yang berlaku dengan median upahnya (kaitz indeks).

              "Besaran UM saat ini hampir di seluruh wilayah sudah melebihi median upah, bahkan Indonesia
              menjadi satu-satunya negara dengan Kaite Index lebih besar dari 1, di mana idealnya berada
              pada kisaran 0,4 s.d. 0,6. Kondisi UM yang terlalu tinggi tersebut menyebabkan sebagian besar
              pengusaha  tidak  mampu  menjangkaunya  dan  akan  berdampak  negatif  terhadap
              implementasinya di lapangan," kata dia

              Hal tersebut, sudah sangat terlihat yaitu dengan upah minimum yang dijadikan upah efektif oleh
              pengusaha Sehingga kenaikan upah cenderung hanya mengikuti upah minimum tanpa didasari
              oleh kinerja individu.
              "Hal ini juga yang kemudian membuat teman-teman SP/SB lebih cenderung menuntut kenaikan
              UM dibandingkan membicarakan upah berbasis kinerja/produktivitas," ucapnya

              Menurutnya, upah minimum ini berdasarkan PP No.36 Tahun 2021 hanya berdasarkan wilayah,
              yaitu Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Tidak ada lagi
              penetapan UM berdasarkan sektor.

              "Upah  yang  telah  ditetapkan  sebelum  tanggal  2  November  2020  tetap  berlaku  hingga  UMS
              tersebut berakhir atau UMP/UMK di wilayah tersebut telah lebih tinggi. Dengan demikian UMS

                                                           460
   456   457   458   459   460   461   462   463   464   465   466