Page 460 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 460
Judul UMP 2022 Naik 1,09 Persen
Nama Media Bangka Pos
Newstrend Upah Minimum 2022
Halaman/URL Pg1&7
Jurnalis kcm
Tanggal 2021-11-17 12:02:00
Ukuran 717x282mmk
Warna Warna
AD Value Rp 139.098.000
News Value Rp 1.390.980.000
Kategori Kementerian Ketenagakerjaan
Layanan Korporasi
Sentimen Positif
Narasumber
neutral - Ida Fauziyah (Menteri Ketenagakerjaan) Kita tunggu dari Gubernur untuk penetapannya
positive - Ida Fauziyah (Menteri Ketenagakerjaan) Besaran UM saat ini hampir di seluruh wilayah
sudah melebihi median upah, bahkan Indonesia menjadi satu-satunya negara dengan Kaite
Index lebih besar dari 1, di mana idealnya berada pada kisaran 0,4 s.d. 0,6. Kondisi UM yang
terlalu tinggi tersebut menyebabkan sebagian besar pengusaha tidak mampu menjangkaunya
dan akan berdampak negatif terhadap implementasinya di lapangan
positive - Ida Fauziyah (Menteri Ketenagakerjaan) Hal ini juga yang kemudian membuat teman-
teman SP/SB lebih cenderung menuntut kenaikan UM dibandingkan membicarakan upah
berbasis kinerja/produktivitas
neutral - Ida Fauziyah (Menteri Ketenagakerjaan) Upah yang telah ditetapkan sebelum tanggal
2 November 2020 tetap berlaku hingga UMS tersebut berakhir atau UMP/UMK di wilayah tersebut
telah lebih tinggi. Dengan demikian UMS tetap berlaku dan harus dilaksanakan oleh pengusaha
positive - Ida Fauziyah (Menteri Ketenagakerjaan) Upah minimum ini ditetapkan bagi pekerja
yang masa kerjanya kurang dari 1 tahun
neutral - Elly Rosita Sila (Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia) Untuk (industri)
yang tidak terdampak kami minta lima persen sampai dengan sepuluh persen
negative - Elly Rosita Sila (Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia) Kita realistis
saja, ada industri yang mati tapi ada industri yang tidak terdampak, ini harus dibedakan. Harus
ada kenaikan pada usaha pertambangan, manufaktur (padat karya), pertanian, rumah sakit,
farmasi Kecuali hotel, pariwisata, restoran, bisnis hiburan adalah yang terdampak
negative - Mirah Sumirat (Presiden ASPEK Indonesia) Angka 1,09 persen itu sama saja tidak ada
kenaikan karena angka tersebut juga tidak akan bisa menutupi kebutuhan hidup pekerja atau
buruh yang sejak pandemi sudah sangat minus
459

