Page 501 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 501

MENAKER SEBUT FORMULA BARU UMP UNTUK MENEKAN KESENJANGAN UPAH
              BURUH ANTARWILAYAH
              Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menegaskan bahwa semangat dari formula
              upah minimum yang baru adalah untuk mengurangi kesenjangan upah masing-masing wilayah
              dan mewujudkan keadilan upah antarwilayah.

              "Semangat  dari  formula  upah  minimum  ini  berdasarkan  PP  36  Tahun  2021  adalah  untuk
              mengurangi kesenjangan upah minimum sehingga terwujud keadilan upah antarwilayah," kata
              Menaker Ida dalam konferensi pers virtual yang dipantau dari Jakarta, Selasa (16/11/2021).

              Keadilan upah antarwilayah itu, jelas Ida, dicapai melalui pendekatan rata-rata konsumsi rumah
              tangga di masing-masing wilayah.

              Karena itu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan maka
              upah minimum ditetapkan berdasarkan wilayah yaitu upah minimum provinsi (UMP) dan upah
              minimum kabupaten (UMK).

              Sementara upah minimum sektoral (UMS) tidak lagi ditetapkan berdasarkan aturan itu, kecuali
              yang ditetapkan sebelum 2 November 2020 yang berlaku hingga masanya telah berakhir atau
              UMP /UMK di wilayah tersebut telah melebihi UMS.

              Menaker mengatakan dengan mencermati upah minimum yang berlaku saat ini, tidak memiliki
              korelasi dengan angka rata-rata konsumsi, median upah atau bahkan tingkat pengangguran.
              Dia  memberi  contoh  bagaimana  suatu  kabupaten  dan  kota  saling  bersebelahan  terkadang
              memiliki nilai upah minimum dengan jarak yang besar. Selain itu terdapat kabupaten dengan
              angka pengangguran tinggi dan mayoritas penduduk bertani tapi karena keberadaan wilayah
              industri menyebabkan daerah itu dipaksa memiliki nilai UMK yang sangat tinggi.
              Penetapan upah minimum yang tidak sesuai perundangan itu, jelasnya, berpotensi menyebabkan
              turunnya indeks daya saing Indonesia khususnya pada aspek kepastian hukum dan menurunkan
              kepercayaan investor terhadap sistem hukum Indonesia.

              "Apabila  ditetapkan  lebih  tinggi  dari  ketentuan  akan  berpotensi  terhambatnya  perluasan
              kesempatan  kerja,  kemungkinan  terjadinya  subtitusi  tenaga  kerja  ke  mesin  itu  juga  tinggi.
              Kemudian kita tidak berharap adanya PHK karena ini memicu terjadinya PHK," ujarnya.

              Ida Fauziyah juga mengatakan penetapan UMP semua provinsi akan dilakukan paling lambat
              pada  21  November  2021  dengan  prosesnya  harus  berdasarkan  Peraturan  Pemerintah  (PP)
              Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan.

              "Gubernur harus menetapkan UMP paling lambat tanggal 21 November 2021 dan karena 21
              November merupakan hari libur nasional maka penetapannya dilakukan paling lambat satu hari
              sebelumnya yaitu tanggal 20 November," kata Menaker.

              Sementara untuk penetapan upah minimum kabupaten/kota (UMK) dilakukan paling lambat pada
              30 November 2021 dan harus dilakukan setelah adanya penetapan UMP.

              Ida menjelaskan bahwa batas waktu penetapan itu juga sudah ditegaskan kembali oleh Menteri
              Dalam Negeri 561/6393/SJ Hal Penetapan Upah Minimum tahun 2022.
              Dia  mengatakan  bahwa  berdasarkan  PP  Nomor  36  Tahun  2021,  yang  merupakan  turunan
              Undang-Undang Cipta Kerja, tidak ada lagi penetapan upah minimum berdasarkan sektoral atau
              yang dikenal dengan singkatan UMS.


                                                           500
   496   497   498   499   500   501   502   503   504   505   506