Page 423 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 NOVEMBER 2021
P. 423

Minta Naik 10%

              Ketua  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  Jawa  Tengah,  Bowo  Leksono  menuntut
              Pemprov Jateng untuk menaikkan UMP 2022 sebesar 10 persen. Bowo menyebut, tahun 2021
              pemerintah hanya menaikkan UMP sebesar 3,68 persen.

              "Permintaan  kenaikan  UMP  sebesar  10  persen  bukan  tanpa  alasan.  Hal  itu  sudah  berdasar
              analisis  Kebutuhan  Hidup  Layak  (KHL).  Sesuai  dengan  KHL  buruh  di  masa  pandemi,  ada
              tambahan kebutuhan seperti hand sanitizer, masker, vitamin, dan lainnya," kata Bowo Leksono.

              Rincian kebutuhan tambahan buruh di antaranya masker N 94 Rp 115 ribu, hand sanitizer Rp 90
              ribu, sabun cair 150 ml Rp 29.600, vitamin Rp 75 ribu, kebutuhan daring seperti kuota Rp 100
              ribu, dan biaya kenaikan air bersih 50 persen Rp 40 ribu.

              "Namun kami harus menghadapi PP No 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan dan UU Nomor 11
              Tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja  beserta  turunannya.  Dalam  menaikkan  UMP,  pemerintah
              memiliki  dua  pilihan,  menggunakan  data  inflasi  atau  data  pertumbuhan  ekonomi.  Kemudian
              adanya batas upah tertinggi, batas upah bawah, serta PDB atau inflasi," bebernya.

              Ia melanjutkan, batas atas didapat dari rata-rata konsumsi perkapita dikali rata-rata banyaknya
              anggota rumah tangga, dan dibagi rata -rata banyaknya anggota rumah tangga yang bekerja.
              Sedangkan upah batas bawah adalah 50 persen dari upah batas atas.

              "Kalau  upah  batas  atas  lebih  tinggi  dari  upah  minimum  existing,  maka  kemungkinan  ada
              kenaikan.  Namun  apabila  upah  batas  atas  lebih  rendah  dari  upah  minimum  existing,  maka
              Gubernur dilarang menaikkan, artinya bisa jadi tidak ada kenaikan," tambahnya.

              Formula KHL

              Ketua  DPD  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Nasional  (KSPN)  Kota  Semarang,  Heru  Budi  Utoyo,
              mengatakan UMK Kota Semarang seharusnya naik 17,3 persen di tahun 2022. Kenaikan UMK
              tersebut berdasarkan hitungan formula yang dia terapkan.

              "Kami menerapkan formula berdasarkan KHL di Kota Semarang tahun 2021 yang mencapai Rp
              3.166.176,49.  Kemudian  kami  melakukan  survei  di  lima  pasar,  menambah  inflasi  dan
              pertumbuhan ekonomi di Kota Semarang. Data inflasi yang kami temukan sebesar 2,71 persen
              dan  pertumbuhan  ekonomi  4,6  persen.  Sehingga  UMK  2022  seharusnya  naik  menjadi  Rp
              3.397.623,99," bebernya.
              Namun pertanyaannya apakah kenaikan UMK sebesar 17,3 persen bisa terjadi pada tahun 2022,
              Heru  menyerahkan  keputusan  tersebut  kepada  Walikota  dan  Gubernur.  Sebab,  hanya
              pemerintah daerah lah yang bisa menentukan berapa jumlah kenaikan UMK dan UMP di masing-
              masing daerah.
              Hingga saat ini KSPN Kota Semarang masih konsisten untuk menolak menggunakan PP 36 Tahun
              2021, sebagai acuan menentukan UMP dan UMK. Sebab di dalam PP tersebut, ada indikator yang
              akan mempersulit penentuan upah yang sesuai dengan Kebutuhan Hidup Layak.

              "Kami konsisten menolak PP 36 Tahun 2021. Itu juga yang digaungkan oleh organisasi buruh
              lainnya.  Sebab,  dengan  menaikkan  UMP  atau  UMK,  bisa  menaikkan  daya  beli  masyarakat.
              Otomatis, pertumbuhan ekonomi nasional bisa semakin pesat. Saat ini saja untuk memenuhi
              kebutuhan pokok masih belum cukup, apalagi untuk kebutuhan lainnya," pungkasnya. (afn/ eyf-
              bersambung)




                                                           422
   418   419   420   421   422   423   424   425   426   427   428