Page 376 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JUNI 2020
P. 376

kemitraan platform digital, kajian KPK meng identifikasi kerja sama dengan 8 platform digital
              tidak melalui mekanisme pengadaan barang dan jasa (PBJ). Penetapan platform digital sebagai
              mitra resmi pemerintah yang dilakukan Komite Cipta Kerja pada 9 Maret 2020 itu juga tidak
              sesuai pasal 35 dan pasal 47 Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Permenko)
              Nomor 3/2020. Sebab, penetapan dilakukan sebelum manajemen pelaksana terbentuk.

              KPK  juga  mengidentifikasi  adanya  konflik  kepentingan  (conflict  of  interest)  pada  5  platform
              digital  dengan  lembaga  penyedia  pelatihan  (LPP).  Itu  mengingat  sebanyak  250  dari  1.895
              pelatihan  adalah  milik  LPP  yang  memiliki  konflik  kepentingan  dengan  platform  digital.
              Sebelumnya, persoalan konflik kepentingan itu menuai banyak kritik dan tanggapan negatif dari
              banyak pihak. Menurut Alex, platform digital tidak boleh memiliki konflik kepentingan dengan
              LPP.

              "Dengan  demikian  250  pelatihan  yang  terindikasi  (konflik  kepentingan)  harus  dihentikan
              penyediaannya," tuturnya. KPK juga merekomendasikan Komite Cipta Kerja agar meminta legal
              opinion  dari  Jamdatun  Kejaksaan  Agung  tentang  kerja  sama  dengan  8  platform  digital  itu.
              "Apakah (8 platform digital) itu termasuk dalam cakupan PBJ pemerintah?" imbuh dia. KPK juga
              menyoroti  materi  pelatihan  yang  tidak  dilakukan  dengan  kompetensi  memadai.  Bahkan,
              pelatihan yang me menuhi syarat baik materi maupun penyampaian secara daring hanya 24
              persen dari 1.895 pelatihan.

              Dan hanya 55 persen dari 457 pelatihan yang dapat diberikan secara daring. Bukan hanya itu,
              dari 327 sampel pelatihan juga ditemukan 89 persen (291) tersedia secara gratis di internet.
              Alex menambahkan, pelaksanaa n program Prakerja secara dalam jaringan (daring) berpotensi
              fiktif, tidak efektif, dan merugikan keuangan negara karena metode pelatihan yang hanya satu
              arah. Pelaksanaan porgram juga tidak memiliki mekanisme kontrol atas penyeles aian pelatihan
              yang sesungguhnya oleh peserta. "Pelatihan harus interaktif sehingga bisa menjamin peserta
              yang mengikuti pelatihan mengikuti keseluruhan paket," katanya.

              Atas kajian itu, KPK meminta pemerintah memperbaiki teknis pelaksanaan. Seperti mengubah
              cara pendaftaran dengan cara menghubungi pekerja terdampak. Bukan membuka secara online
              tanpa  memverifikasinya  dengan  data  whitelist  dari  Kemenaker  dan  BPJS  Ketenagakerjaan.
              "Tidak perlu penggunaan fitur lain yang mengakibatkan penambahan biaya," ujarnya. Untuk
              diketahui, Prakerja disusun untuk kondisi normal sesuai Perpres Nomor 36/2020. Namun, dalam
              situasi pandemi Covid-19, program itu menjadi semibantuan sosial (bansos). Anggaran yang
              dialokasikan sebesar Rp20 triliun dengan target peserta 5,6 juta orang.

              Komposisi  nilai  total  insentif  pascapelatihan  sebesar  Rp2,4  juta/orang.  Dan  insentif  survei
              kebekerjaan sebesar Rp150 ribu/ orang, lebih besar dari nilai bantuan pelatihannya itu sendiri
              yaitu sebesar Rp1 juta/orang. Sementara itu, Project Management Office (PMO) program Kartu
              Prakerja mengakui proses verifikasi masih manual. Selain itu, pihaknya juga terkendala sumber
              daya yang terbatas.Makanya, masih terjadi penumpukan transaksi (backlog) peserta gelombang
              pertama  dan  kedua.  "Verifikasi  masih  manual.  Belum  automasi.  Butuh  beberapa  hari  untuk
              menyelesaikan,  memadankan,  kemudian  membayar  insentif,"  kata  Direktur  Komunikasi,
              Kemitraan, dan Pengembangan Ekosistem PMO Kartu Prakerja Panji Winanteya Ruky.

              Panji menuturkan, PMO melakukan verifikasi berlapis untuk memastikan tepat sasaran. Agar
              insentif benar-benar disalurkan ke rekening peserta kartu prakerja. Bukan pihak lain. Mulai dari
              platform digital mengirim pemberitahuan kepada PMO. Kemudian, peserta segera melakukan
              upgrade  akun  atau  akun  rekening.  Untuk  selanjutnya  diverifikasi  oleh  mitra  pembayaran.
              "Proses  automasi  (verifikasi  menggunakan  sistem)  masih  dalam  pengembangan.  Tentunya
              butuh  waktu  untuk  memastikan  sistem  siap  sehingga  bisa  meningkatkan  kapasitas
              pemrosesan," ujarnya. Dia menegaskan tidak ada konflik kepentingan.


                                                           375
   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380   381