Page 220 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 OKTOBER 2019
P. 220

Title          BURUH TOLAK KENAIKAN UMP 8,51 PERSEN, MAUNYA 20 PERSEN
               Media Name     suara.com
               Pub. Date      18 Oktober 2019
                              https://www.suara.com/bisnis/2019/10/18/094358/buruh-tolak-kenaikan-um p-851-
               Page/URL
                              persen-maunya-20-persen
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive







               Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek) menolak dengan tegas kenaikan upah
               yang akan diumumkan pemerintah sebesar 8,51 persen. Aspek malah meminta
               kenaikan upah sebesar 20 persen untuk tahun 2020.

               "Jelas kita tolak (kenaikan upah 8,51 persen), kami memintanya 20 persen," kata
               Ketua Umum Aspek Mirah Sumirah saat dihubungi Suara.com, Jumat (18/10/2019).

               Mirah menjelaskan, angka 20 persen kenaikan tersebut merupakan hitungan yang
               sudah dihitung-hitung dengan baik dengan melibatkan setidaknya 84 item
               Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

               Menurut dia 84 item KHL tersebut memberikan kejelasan yang jelas bagi para
               buruh, dari sisi kesejahteraan. Maka dari itu Mirah meminta pemerintah menaikan
               upah sebesar 20 persen.

               "Dari 84 item KHL yang kami hitung secara internal, kami melihat kenaikan yang
               layak sebesar 20 persen dari angka yang sekarang," ucap Mirah.

               Untuk diketahui, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menetapkan kenaikan
               Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten (UMK) sebesar 8,51
               persen. Kenaikan UMP itu akan diumumkan serentak pada 1 November 2019 dan
               diberlakukan pada tahun 2020.

               Dalam surat edaran, Menaker meminta daerah yang UMP dan UMK di bawah nilai
               kebutuhan hidup layak (KHL), wajib menyesuaikan upah minimumnya.

               Berdasarkan surat edaran itu, terdapat tujuh provinsi yang harus menyesuaikan
               UMP dan UMK, yaitu Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara
               Timur, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara.

















                                                      Page 219 of 329.
   215   216   217   218   219   220   221   222   223   224   225