Page 106 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 APRIL 2020
P. 106

Mahfud menyebut ada 700.000 pekerja Indonesia yang terdokumentasi dan 1,5 juta
               TKI tanpa dokumen yang bekerja di sektor industri konstruksi, restoran, dan
               layanan kebersihan yang diberhentikan dengan cuti tanpa mendapatkan bayaran
               selama periode penguncian.


               Ia menambahkan, setidaknya ada sekitar 400.000 pekerja yang telah diancam akan
               digusur oleh tuan rumah karena tak punya uang untuk membayar sewa yang rata-
               rata sekitar 1.200 ringgit sebulan.

               Mencoba bertahan hidup


               Agung (30) adalah salah satu contoh TKI yang bertahan hidup dengan telur dan mi
               instan.

               Ia sendiri tinggal di sebuah lokasi konstruksi yang tak layak digunakan sebagai
               tempat tinggal.

               Jika biasanya ia mampu menghasilkan 2.000 ringgit Malaysia tiap bulan dari
               upahnya sebagai kuli bangunan, kini ia hidup serba terbatas akibat tutupnya banyak
               kantor-kantor di Malaysia sejak 18 Maret 2020.

               Bahkan upahnya pun belum terbayarkan.

               Pasokan makanan yang ia dapat dari LSM hanya mampu membuatnya bertahan
               selama empat hingga lima hari.

               Sebagai kepala keluarga yang menopang kehidupan keluarganya di kampung, ia
               mengkhawatirkan kondisi orang tuanya yang lanjut usia, istrinya dan anaknya yang
               masih kecil.

               "Saya belum bisa mengirimi mereka uang selama dua bulan. Untuk saat ini mereka
               memiliki makanan, tetapi saya tidak tahu berapa lama itu akan berlangsung, "kata
               Agung.

               Saat ini, masalah pekerja Indonesia seperti Agung adalah bergulat dengan dua
               masalah yakni kesulitan keuangan dan pemberitahuan bahwa mereka tidak
               diperbolehkan kembali ke rumah pada akhir Mei untuk merayakan Idul Fitri.

               "Pekerja migran tidak takut pada Covid-19. Mereka lebih takut bahwa mereka
               kelaparan karena mereka tidak bisa bekerja lagi dan mendapatkan upah," ujar
               Glorene Das Direktur Tenaganita, LSM yang melindungi hak perempuan pekerja
               migran dan pengungsi Malaysia.














                                                      Page 105 of 254.
   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111