Page 209 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 APRIL 2020
P. 209

Salah satu penyebab tersendatnya pertumbuhan investasi tidak bisa bergerak naik
               adalah indikator daya saing Indonesia.


               Global Competitiveness Report/GCR 2019) besutan World Economic Forum (WEF)
               mencatat bahwa peringkat daya saing Indonesia menurun dari posisi 45 ke-50.
               Prosedur perizinan di Indonesia dinilai berbelit-belit. Hal ini salah satunya tercermin
               dari waktu untuk memulai bisnis yang menduduki peringkat ke-103.


               Biaya untuk memulai usaha yang mendapatkan skor di peringkat ke-67. Secara
               teoretis, daya saing dan investasi menunjukkan hubungan yang positif. Artinya,
               ketika daya saing suatu negara mengalami kenaikan, maka investasi di negara
               tersebut juga akan meningkat.

               Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah terobosan yang mampu mengkonfigurasi ulang
               hambatan-hambatan tersebut. Salah satunya melalui Undang-undang sapu jagat
               Omnibus Law.

               Omnibus Law RUU Cipta Kerja, bukan hanya mengatur tentang ketentuan investasi
               dan kemudahan berusaha. Salah satu RUU Omnibus Law ini juga mengatur hal-hal
               lain, termasuk ketenagerjaan, lingkungan, industri pertambangan, pengelolaan
               wilayah pesisir dan kepulauan, Badan Usaha Milik Desa, serta Usaha Mikro Kecil dan
               Menengah.

               Dalam hal ini, TII mengatakan bahwa RUU Cipta Kerja juga didorong untuk
               menciptakan perluasan kesempatan kerja dan pemberdayaan ekonomi, melalui
               kemudahan berusaha dan proses perijinan yang mudah, serta difasilitasi
               pemerintah.


               Catatan TII ini juga sejalan dengan Pasal 2 Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang
               menyebutkan tentang asas penyelenggaraan jika RUU ini diloloskan nantinya, yaitu
               asas pemerataan hak, kepastian hukum, kemudahan berusaha, kebersamaan, serta
               kemandirian.

               TII menilai bahwa Omnibus Law RUU Cipta Kerja sebagai kebijakan berpotensi
               positif bagi kebebasan ekonomi, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, serta
               kesejahteraan di Indonesia.

               Namun, sejak awal, proses pembuatan RUU Cipta Kerja sudah mengundang
               polemik, dari prosesnya yang dinilai tidak inklusif, tidak transparan, terburu-buru,
               hingga banyak ketentuan yang diatur didalamnya dinilai mengabaikan aspek
               perlindungan HAM, demokrasi, penegakan hukum, dan mengancam
               keberlangsungan lingkungan hidup.


               Lebih jauh, terkait tata bangunan dan logika hukum, RUU Cipta Kerja berpotensi
               menghidupkan kembali pasal yang pernah dibatalkan Mahkamah Konstitusi, yaitu
               ketentuan presiden bisa membatalkan peraturan daerah melalui peraturan presiden.








                                                      Page 208 of 254.
   204   205   206   207   208   209   210   211   212   213   214