Page 210 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 APRIL 2020
P. 210

Jelas hal ini bertentangan dengan hierarki tata peraturan perundang-undangan yang
               berlaku. Belum lagi, potensi anomali dengan prinsip Omnibus Law, karena RUU
               Cipta Kerja nantinya akan mengamanatkan ratusan peraturan teknis untuk
               pelaksanaanya.


               Hal ini pulalah yang membuat pembahasan RUU ini masih harus mengkritisi
               banyaknya ketentuan yang bermasalah, mengingat potensi dampak negatif serius
               yang akan ditimbulkannya.

               TII menegaskan pentingya mengkritisi RUU ini mengingat aspek ekonomi juga
               berdampak terhadap aspek lainnya. Selain itu, pembangunan yang berkelanjutan
               dan mendukung kebebasan ekonomi tidak akan dapat berjalan baik dan berdampak
               positif, jika tidak memperhatikan pemangku kepentingan, konteks, serta dampak di
               aspek lainnya, termasuk aspek perlindungan HAM dan hukum, demokrasi, sosial,
               maupun lingkungan hidup.

               Harus diakui bahwa Omnibus Law RUU Cipta Kerja masih memuat banyak ketentuan
               yang kontroversial dan justru ikut menghambat tujuannya karena proses
               pembuatannya yang sejak awal bermasalah.


               Sebut saja ketentuan mengenai Pasal 93 RUU Cipta Kerja yang tidak memberi
               penjelasan rinci mengenai kata berhalangan terkait ketentuan tentang pemberian
               upah bagi buruh yang tidak masuk kerja karena berhalangan. Hal ini juga
               berpotensi merugikan hak-hak buruh perempuan seperti yang disuarakan serikat
               buruh.

               Di sektor lingkungan dan industri pertambangan misalnya, banyak ketentuan yang
               dihapus atau tidak mengatur dengan ketat mengenai aspek pemberdayaan
               lingkungan dan sanksi, sehingga berpotensi mengabaikan AMDAL dan merusak
               lingkungan, serta memberi ruang luas untuk perpanjangan masa ijin perrtambangan
               dan membiarkan pengrusakan lingkungan.

               TII mendesak agar semua catatan kritis dari beragam pihak harus dipertimbangkan
               dan dijadikan masukan dalam proses pembahasan RUU Cipta Kerja kedepan.

               Di tengah krisis pandemi COVID-19 dan kritik publik terhadap Dewan Perwakilan
               Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang bersikukuh untuk terus melanjutkan
               pembahasan RUU ini, para pembuat kebijakan dituntut untuk membuktikan bahwa
               RUU Cipta Kerja tetap diproses sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola
               pemerintahan yang baik.

               Dengan demikian, proses kebijakan yang inklusif, partisipatif, transparan, dan
               akuntabel, serta masukan dari berbagai pihak, menjadi hal yang sangat penting
               untuk memastikan agar RUU Cipta Kerja ini juga dalam prosesnya sejalan dengan
               asas penyelenggaraan yang termaktub dalam ketentuannya, serta relevan dengan
               dan memenuhi kepentingan dan kebutuhan beragam pihak, bukan hanya aspek
               ekonomi semata..





                                                      Page 209 of 254.
   205   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215