Page 98 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JANUARI 2020
P. 98

Ida mengatakan, sejauh ini Omnibus Law belum masuk Program Legislasi Nasional
               (Prolegnas) 2020. Sehingga belum ada satupun Omnibus Law yang sudah dibahas
               secara resmi bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

               "DPR sendiri kan juga belum memutuskan prolegnas, listnya belum. Prioritas 2020
               belum. Kami akan ikuti proses yang ada di DPR kapan pemerintah akan sampaikan
               ke DPR setelah prolegnas disepakati kemudian priroitas 2020 disepakati Omnibus
               Law masuk baru kemudian DPR sama pemerintah akan ketemu," jelasnya.

               Ida juga menanggapi, waktu kerja 8 jam yang beberapa waktu lalu banyak
               mendapat penolakan. Menurutnya, jam kerja buruh maupun karyawan tetap 40 jam
               dalam satu minggu. Namun, ada fleksibilitas terhadap pekerjaan yang pada
               dasarnya tidak bekerja 8 jam per hari.


               "Jam kerja tetap saja, jam kerja paling lama 8 jam dalam satu hari, dalam satu
               minggunya 40 jam. Bagaimana dengan pekerjaan yang jam kerjanya kurang dari
               itu? Maka disini pemerintah akomodasi karena fleksibilitas itu," jelasnya.


               "Jadi pemerintah mengakomodasi pekerjaan yang kurang dari 8 jam dan kurang
               dari 40 jam dalam seminggu. Ini kan dibanyak negara fleksibilitas itu ada. Tapi
               secara umum pekerjaan jam kerja itu 8 jam, paling lama," tandasnya.

               Omnibus Law Bakal Hapus Upah Minimum dan Pesangon Buruh?


               Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak rencana pemerintah
               mendorong investasi dan meningkatkan lapangan kerja melalui penyusunan
               Omnibus Law di sektor ketenagakerjaan.


               Presiden KSPI Said Iqbal menyatakan, Omnibus Law bukan cara yang tepat untuk
               meningkatkan investasi dan menciptakan lapangan kerja. Sebaliknya, Omnibus Law
               dikhawatirkan akan semakin menekan tingkat kesejahteraan para pekerja.


               Berdasarkan pernyataan Menteri Perekonomian dan Menteri Ketenagakerjaan, Said
               Iqbal mencatat setidaknya ada lima hal mendasar yang disasar Omnibus Law.

               Pertama, Menghilangkan Upah Minimum

               Dampak terburuk yang secara langsung dirasakan buruh adalah hilangnya upah
               minimum. Hal ini terlihat dari keinginan pemerintah yang hendak menerapkan
               sistem upah per jam. Dengan kata lain, pekerja yang bekerja kurang dari 40 jam
               seminggu, maka upahnya otomatis akan di bawah upah minimum.

               Belum lagi ketika pekerja sakit, menjalankan ibadah sesuai kewajiban agamanya,
               cuti melahirkan, maka upahnya tidak lagi dibayar karena pada saat itu dianggap
               tidak bekerja.


               "Memang, ada pernyataan yang mengatakan jika pekerja yang bekerja 40 jam
               seminggu akan mendapat upah seperti biasa. Sedangkan yang di bawah itu
               menggunakan upah per jam," kata Iqbal.




                                                       Page 97 of 203.
   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103