Page 43 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 NOVEMBER 2019
P. 43
sementara pabrik di Banten mulai dikurangi jumlah karyawannya.
Selagi melakukan perekrutan pekerja di Jawa Tengah, Firman menyampaikan
bahwa pabrik-pabrik tersebut juga tengah melihat kondisi usaha di Banten.
"Kalau memang semakin tidak menguntungkan, ya proses utamanya di Banten akan
digeser ke Jawa Tengah dan yang di Banten semakin lama semakin kecil. Karena
relokasi ini membuat kapasitas produksi pabrik tetap," tukas Firman.
Lebih Efisien Firman meyakini relokasi yang dilakukan dapat membuat industri alas
kaki semakin lebih efisien, sehingga ongkos produksi bisa dipangkas, yang pada
akhirnya harga produk yang dihasilkan bisa turun dan lebih kompetitif.
Kendati demikian, pelaku industri juga masih menghadapi beberapa kendala di Jawa
Tengah, di antaranya adalah soal ketersediaan tenaga kerja yang terampil, sehingga
perusahaan masih perlu memberi pelatihan keterampilan hingga melatih untuk
beradaptasi dengan kultur perusahaan untuk para calon pekerja.
"Tetapi, terlepas dari tantangan itu, anggota-anggota kita masih melihat tidak ada
cara lain untuk bisa survive selain efisiensi. Salah satu efisiensi yang paling bisa
diraih adalah relokasi mencari beban SDM yang lebih kompetitif," ungkapnya.
Firman menyampaikan bahwa industri alas kaki Indonesia yang padat karya telah
menjadi bagian dari rantai pasok global, sehingga mau tidak mau harus bersaing
secara global.
Pesaing Indonesia saat ini adalah Vietnam, China, dan Kamboja, yang mulai
menunjukkan eksistensinya saat ini. Untuk itu, lanjut Firman, industri alas kaki
nasional perlu melakukan efisiensi untuk tetap mempertahankan daya saingnya.
banten, pabrik sepatu.
Page 42 of 193.

