Page 166 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 06 MEI 2020
P. 166
Produksi yang jatuh menyebabkan potensi Indonesia mengekspor barang ke
berbagai negara berkurang. Sementara itu, penurunan konsumsi juga terjadi "yang
sebagian disebabkan oleh jatuhnya permintaan ekspor. Penurunan substansial
permintaan menyumbang kenaikan besar pada kelebihan kapasitas (barang hasil
produksi)."
Kondisi ini mengakibatkan munculnya indikasi bahwa pertumbuhan GDP Indonesia
tidak akan mencapai lebih dari 3 persen di akhir 2020. Indikasi ini sudah terbukti
dari catatan pertumbuhan ekonomi kuartal I Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di kuartal
I/2020 hanya sebesar 2,97 persen secara tahunan. Padahal, pertumbuhan ekonomi
di kuartal I/2019 mencapai 5,02 persen secara tahunan.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, tekanan pertumbuhan ekonomi
di kuartal I tahun ini terjadi karena anjloknya kenaikan konsumsi rumah tangga, dari
5,02 persen di kuartal I/2019 menjadi 2,84 persen tahun ini. Kemudian, ada
kontraksi ekspor sebesar -1,58 persen, dan impor -2,19 persen.
Dipengaruhi pasar tenaga kerja
Kepala Ekonom IHS Markit Bernard Aw menyebut, optimisme dunia usaha juga
terpengaruh tingginya jumlah pekerja yang menjadi korban PHK dan dirumahkan
akibat pandemi Covid-19. Selain itu, masih ada faktor lain yang memperparah
seperti mulai tersendatnya stok bahan baku, dan pelemahan nilai tukar rupiah.
"Survei menggarisbawahi kerugian terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya
pada perekonomian Indonesia akibat tindakan darurat kesehatan masyarakat untuk
menghambat penyebaran virus, yang berkontribusi pada penurunan permintaan
global dan kekurangan input bahan baku," ujar Bernard.
Sebagai catatan, hingga Jumat (1/5) Kementerian Ketenagakerjaan mendata jumlah
pekerja yang dirumahkan dan terkena PHK akibat pandemi Covid-19 mencapai 2,9
juta orang. Dirinci lebih jauh, ada 375.165 pekerja formal yang terkena PHK, 1,32
juta pekerja formal yang dirumahkan, dan 314.883 pekerja informal yang
terdampak.
Penurunan PMI akibat pandemi Covid-19 juga tidak hanya terjadi di Indonesia. Pada
kawasan ASEAN, hal serupa terjadi di mayoritas negara tetangga seperti Singapura,
Myanmar, Malaysia, dan Thailand.
Meski begitu, penurunan indeks manufaktur Indonesia memang menjadi yang
tertajam dibanding negara-negara Asia Tenggara lain. Bahkan, Menteri Keuangan
Sri Mulyani menyebut bahwa penurunan PMI Indonesia per April lebih tajam
dibanding kondisi di Jepang dan Korea Selatan.
Page 165 of 184.

