Page 130 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 NOVEMBER 2021
P. 130

MINTA KENAIKAN UMP HINGGA 10 PERSEN, KSPI TOLAK PENETAPAN PP NOMOR
              36/2021
              JAKARTA - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak penetapan upah minimum
              provinsi atau UMP 2022 yang mengacu pada amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36/2021
              tentang Pengupahan yang menjadi turunan dari Undang Undang Nomor 11/2020 tentang Cipta
              Kerja.

              Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan, serikatnya tetap berpegang pada rumusan pengupahan
              yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

              Iqbal menuturkan, UU itu mengamanatkan penghitungan UMP berdasar pada survei kebutuhan
              hidup layak atau KHL di tengah masyarakat.

              "KSPI  minta  menggunakan  KHL  merujuk  pada  UU  Nomor  13/2003,  karena  kita  sedang
              menggugat UU Cipta Kerja, sehingga PP Nomor 36/2021 tentang Pengupahan juga tidak boleh,"
              kata Iqbal melalui sambungan telepon, Selasa (2/11/2021).

              UU Cipta Kerja yang tengah digugat itu, kata Iqbal, tidak dapat dijadikan instrumen penghitung
              kenaikan UMP pada tahun depan. Alasannya, objek hukum yang ada pada UU itu belum memiliki
              kekuatan hukum tetap atau inkrah.

              Lewat survei KHL itu, dia mengatakan, KSPI mendapatkan nilai kenaikan UMP 2022 sebesar 7-
              10 persen. Menurut dia, harga sejumlah KHL pekerja, seperti sewa rumah, transportasi, dan
              barang di pasar mengalami kenaikan yang signifikan selama pandemic.

              "Itemnya yang besar sewa rumah dan transportasi buruh, karena Covid-19 jadi tidak bisa naik
              angkot, sekarang pakai Gojek. Jadinya mahal," kata dia.

              Seperti  diberitakan  sebelumnya,  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker)  memprediksi
              penetapan  upah  minimum  tahun  depan  mengalami  kenaikan.  Hanya  saja,  Kemenaker
              memastikan kenaikan itu tidak bakal bergerak signifikan lantaran terjadinya gelombang kedua
              pandemic Covid-19 di pertengahan tahun ini.

              "Penetapan  upah  minimum  2022  secara  mayoritas  diprediksi  mengalami  kenaikan,  maupun
              belum bisa memenuhi ekspektasi para pihak. Hal tersebut harus diapresiasi sebagai langkah
              maju, mengingat kita masih dalam masa pemulihan dari dampak Covid-19," Direktur Hubungan
              Kerja dan Pengupahan Kemenaker Dinar Titus Jogaswitani.
              Depenas  dan  LKS  Tripnas  juga  telah  mengadakan  pertemuan  pada  21-22  Oktober  2021  di
              Jakarta.  Persamuhan  itu  sepakat  untuk  mendorong  penetapan  upah  minimum  yang  sesuai
              dengan ketentuan PP Nomor 36/2021 tentang Pengupahan.

              "Bagi para pihak yang tidak puas, mereka bisa menggunakan mekanisme gugatan sesuai dengan
              ketentuan peraturan perundang-undangan," tuturnya.

              Di sisi lain, persentase kenaikan upah minimum berpotensi lebih rendah dibandingkan dengan
              tahun-tahun sebelumnya, seiring dengan diterapkannya metode kalkulasi baru perhitungan upah
              minimum.

              Penetapan upah minimum 2022 bakal mengacu pada PP Nomor 36/2021 tentang Pengupahan
              yang menggantikan PP Nomor 78/2015.

              Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar menjelaskan,
              penghitungan upah minimum terbaru akan memakai sejumlah variabel baru. Pada regulasi lama,
              kenaikan upah minimum mengacu pada tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi tahun berjalan.

                                                           129
   125   126   127   128   129   130   131   132   133   134   135