Page 60 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 NOVEMBER 2021
P. 60

Pengupahan sebagai regulasi turunan Undang-Undang No. 11/2020 tentang Cipta Kerja. Dalam
              beleid  baru  itu,  rumus  pene-tapan  upah  minimum  pada  tahun  depan  mengacu  data  kondisi
              per-eko-nomian dan ketenagakerjaan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS).



              MENANTI TUAH FORMULA UPAH

              Tarik  menarik  kepentingan  dalam  penetapan  besaran  kenaikan  pengupahan  buruh  2022
              diharapkan  teredam  oleh  formula  dalam  Peraturan  Peme-rintah  No.  36/2021  tentang
              Peng-upahan sebagai regulasi turunan Undang-Undang No. 11/2020 tentang Cipta Kerja.

              Dalam  beleid  baru  itu,  rumus  pene-tapan  upah  minimum  pada  tahun  depan  mengacu  data
              kondisi per-eko-nomian dan ketenagakerjaan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS).

              Formula itu juga telah disepakati Dewan Pengupahan Nasional (Depenas) dan Badan Pekerja
              Lembaga Kerja Sama Tripartit Nasional (BP LKS Tripartit).

              Ketua  Umum  Asosiasi  Pengusaha  Indonesia  (Apindo)  Hariyadi  Sukam-dani  mengatakan
              kesepakatan pene-tapan upah memakai formula di PP No.36/2021 itu akan mengakhiri tarik
              menarik dan ketidakpuasaan masalah peng-upahan setiap menjelang akhir tahun.

              “Kami berharap dengan formula pene-tapan upah yang ada dapat dite-rima semua pihak dan
              serikat buruh, sehingga ketegangan kita dalam hubungan industrial lebih baik, produktif dan
              dapat  menciptakan  lapangan  pekerjaan  lebih  luas,”  tuturnya  dalam  konferensi  pers,  Selasa
              (2/11).

              Dia melanjutkan tuntutan kenaikan upah minimum 2022 sebesar 7%-10% dari serikat pekerja
              tak bisa diterima ka-rena mengabaikan formula PP No. 36/2021.

              Sebaliknya, dia menyatakan hasil uji Apin-do atas upah minimum dengan for-mula lama juga
              tidak memberikan pem-benaran upah minimum 2022 bisa naik 7%-10%.
              “Kemarin  kami  menguji  dengan  memasukkan  64  komponen  KHL  sebagai  dasar.  Hasilnya  di
              bawah upah minimum 2021,” katanya.

              Hariyadi  juga  mengingatkan  para  kepala  daerah  untuk  patuh  menetapkan  besaran  kenaikan
              upah minimum sesuai PP No. 36/2021 seba-gai turunan UU Cipta Kerja.

              Pengalaman tahun lalu, sejumlah gu-bernur memilih menaikkan upah minimum provinsi (UMP)
              2021 kendati ada Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah yang mengatur UMP 2021
              sama dengan UMP 2020 karena dampak pandemi Covid-19.

              Beberapa kepala daerah yang melanggar SE Menaker adalah DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa
              Timur hingga Sulawesi Selatan. DKI Jakarta memilih menaikkan UMP 2021 sebesar 3,27% dari
              UMP 2020 untuk kegiatan usaha yang tak terdampak Covid-19.

              Adi Mahfud, Wakil Ketua Depenas dari pengusaha, menambahkan permintaan kenaikan UMP
              2022 mencapai 10% tak memiliki dasar perhitungan yang akurat.

              Menurutnya, hasil uji petik Depenas di empat pasar yang ada di Ibu Kota untuk menguji proyeksi
              kenaikan  UMP  2022  hingga  10%  dengan  formula  lama  PP  No.  78/2015  menunjukkan  hasil
              sebaliknya.

              Empat pasar yang disurvei Depenas adalah Pasar Senen, Pasar Cipinang Jaya, Pasar Koja dan
              Pasar Sukapura. Survei di Pasar Senen mencatatkan KHL pekerja di angka Rp3.654.386, Pasar

                                                           59
   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65