Page 56 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 9 APRIL 2020
P. 56

Title          DPR NGOTOT BAHAS OMNIBUS LAW SAAT PAGEBLUK COVID-19, PENGAMAT: DIHENTIKAN
                              DULU PEMBAHASANNYA, BAGIKAN NASKAH AKADEMIKNYA
               Media Name     rmol.id
               Pub. Date      08 April 2020
                              https://politik.rmol.id/read/2020/04/08/429295/dpr-ngotot-bahas-omnibu s-law-saat-
               Page/URL       pagebluk-covid-19-pengamat-dihentikan-dulu-pembahasannya-ba gikan-naskah-
                              akademiknya
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive














               Badan Legislasi (Baleg) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada
               pekan depan dijadwalkan akan melakukan rapat kerja bersama pemerintah. Mereka
               akan mengagendakan pembahasan  Omnibus Law  Rancangan Undang Undang
               Cipta Kerja (RUU Ciptaker) di tengah Indonesia sedang menghadapi pagebluk
               Coronavirus disease (Covid-19).

               Merespons ngototnya DPR dan pemerintah membahas RUU Ciptaker, pengamat
               hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Muhtar Said meminta DPR
               dan pemerintah hati-hati dalam membentuk sebuah peraturan perundang-
               undangan. Said menjelaskan, saat ini kondisi Indonesia sedang dalam keadaan
               darurat karena menghadapi wabah mematikan asal Kota Wuhan, China.


               Wakil rakyat di Senayan, tambah Said seharusnya mengerti keadaan warganya saat
               ini yang sedang menghadapi wabah Covid-19 yang mematikan ratusan orang di
               Indonesia.


               "Salah satu syarat pembentukan peraturan perundang-undangan itu bersifat
               futuristik, dan mengatasi permasalahan yang ada. Sekarang negara dalam keadaan
               darurat, jadi DPR sebagai Wakil Rakyat harus mengerti keadaan warganya,
               masyarakat belum butuh omnibus law," demikian pendapat Magister Hukum
               Universitas Diponegoro ini.

               Lebih lanjut peneliti Pusat Pendidikan dan Kajian Anti Korupsi (Pusdak) Unusia ini
               menyarankan, sebaiknya DPR dan pemerintah membagikan naskah akademik
               kepada berbagai pihak seperti akademisi, kelompok masyarakat sipil dan para
               pemangku kepentingan lainnya. Dengan langkah itu, Said meyakini RUU Ciptaker
               yang dihasilkan akan lebih komprehensif dan menjawab berbagai masalah dan kritik
               muncul di ruang publik.

               "Ditahan dulu pembahasannya, disharekan dulu Naskah Akademiknya kepada para
               akademisi dan para pemangku kepentingan seperti aktivis buruh dan kelompok sipil
               lainnya, sehingga pembahasan bersifat holistik. Ingat itu peraturan perundang
               undangan," tandas Said.



                                                       Page 55 of 234.
   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61