Page 33 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 OKTOBER 2019
P. 33

Sosok Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga dinilai pantas untuk dipertahankan
               oleh Presiden Jokowi. Menurut Yasin, meski awalnya banyak yang meragukan,
               namun prestasi Retno telah membuktikan kelihaiannya berkomunikasi dengan
               negara-negara lain.


               "Pada awal-awal penunjukan Ibu Retno diragukan kemampuannya, termasuk
               komunikasinya dengan beberapa negara lain banyak diragukan. Tapi belakangan dia
               bisa menunjukkan seperti masuknya Indonesia sebagai Dewan Kehormatan di PBB
               (Perserikatan Bangsa-Bangsa)," imbuhnya.

               Namun demikian, Retno masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang harus
               diselesaikan. Misalnya persoalan hukum yang banyak menjerat pekerja migran
               Indonesia (PMI) di luar negeri.

               Tak Sesuai Harapan

               Sementara itu, lanjut Yasin, sejumlah menteri dari kalangan partai politik justru
               paling terancam. Menurutnya, mayoritas dari mereka jarang berprestasi dan tidak
               memiliki terobosan baru. Ia menyontohkan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto
               yang menjabat Menteri Perindustrian.

               "Saya kira belum ada yang berpretasi. Seperti Airlangga Hartarto, Menteri
               Perindustrian, belum ada terobosan baru. Tidak ada perkembangan signifikan. Tidak
               bisa mendatangkan investasi di bidang industri. Stimulan-stimulannya tidak ada.
               Saya kira kinerjanya belum maksimal di bidang perindustrian," sebut dia.

               "Apalagi Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Banyak melakukan kebijakan-
               kebijakan impor yang menimbulkan polemik. Justru sentimen negatifnya terhadap
               Enggartiasto Lukita lebih besar," imbuhnya.

               Yasin juga menyoroti kinerja Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri yang justru tidak
               mampu melindungi buruh. Padahal seharusnya Menaker itu bisa mengeluarkan
               peraturan menteri yang bisa menjawab persoalan-persoalan krusial, berkaitan
               dengan buruh dan perlindungan kesejahteraan buruh.


               "Dan Menaker sendiri tidak bisa menjawab persoalan-persoalan di buruh. Contoh
               kasus semisal soal PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) besar-besaran di perusahaan
               Krakatau Steel," tegas dia.

               Seharusnya kata dia, Hanif Dhakiri mampu membuat peraturan yang bisa
               melindungi para pekerja. Sementara Hanif tidak bisa menjembatani antara pihak
               buruh dan perusahaan.


               "Beberapa kasus yang parsial banyak sekali. Ada 4.000 buruh yang di-PHK masal,
               mereka datang ke Menaker, tapi menterinya manggil Direktur Krakatau Steel saja
               enggak bisa," pungkasnya.







                                                       Page 32 of 66.
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38