Page 30 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 OKTOBER 2019
P. 30
"Pada awal-awal penunjukan, Ibu Retno diragukan kemampuannya, termasuk
komunikasinya dengan beberapa negara lain banyak diragukan. Tapi belakangan dia
bisa menunjukkan seperti masuknya Indonesia sebagai Dewan Kehormatan di PBB,"
imbuhnya.
Namun demikian, kata Yasin, Retno masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang
harus diselesaikan. Salah satunya adalah persoalan pekerja migran Indonesia.
Menteri dari partai politik justru terancam posisinya
Yasin menambahkan, sejumlah menteri dari kalangan partai politik justru paling
terancam. Mayoritas dari mereka jarang berprestasi dan jarang memiliki terobosan
baru. Ia mencontohkan Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, yang menjabat
Menteri Perindustrian.
"Tidak ada perkembangan signifikan. Tidak bisa mendatangkan investasi di bidang
industri. Stimulan-stimulannya tidak ada. Saya kira kinerjanya belum maksimal di
bidang perindustrian," katanya.
Apalagi, ia melanjutkan, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita. Enggartiasto
banyak melakukan kebijakan impor yang menimbulkan polemik sehingga
menimbulkan sentimen negatif terhadapnya.
Yasin juga menyoroti kinerja Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri. Mantan Sekjen
PKB itu justru tidak mampu melindungi buruh.
"Ya seharusnya Menaker itu banyak mengeluarkan peraturan menteri yang bisa
menjawab persoalan-persoalan krusial. berkaitan dengan buruh dan perlindungan
kesejahteraan buruh," imbuhnya.
Akan tetapi, Hanif dianggap tidak bisa menjawab persoalan di buruh. Contohnya,
PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) besar-besaran di Krakatau Steel.
"Dia (Menaker) juga tidak bisa menjembatani antara pihak buruh dan perusahaan.
Beberapa kasus yang parsial banyak sekali. Ada 4.000 buruh yang di-PHK massal.
Mereka datang ke Menaker, tapi menterinya memanggil Direktur Krakatau Steel saja
tidak bisa," ujar Yasin.
Page 29 of 66.

